Tampilkan postingan dengan label Wacana Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana Peternakan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2009

USAHA PENGENTASAN KEMISKINAN LEWAT BIDANG PETERNAKAN

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Pendahuluan

Dalam setiap tujuan pembangunan selalu yang menjadi tujuan pokok adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat atau pengentasan kemiskinan. Berbagai jalan untuk mencapai target tersebut salah satunya adalah pencanangan program-program pemerintah yang benar-benar menyentuh sasaran. Usaha pengentasan kemiskinan lewat bidang peternakan perikanan sudah lama dirintis namun seiring dengan pergantian iklim politik di Indonesia mengakibatkan seringnya pergantian kebijakan yang sedikit banyak menghambat kontinyuitas program.

Selain itu faktor pendanaan dalam pelaksanaan di program produktif ini sering kali dikalahkan oleh program-program instan seperti bantuan langsung sehingga dari masyarakat sasaran menjadi terpola untuk enggan melaksanakan program-program pemerintah ke arah kemandirian. Hal ini bisa berdampak bola salju kegagalan atau ketidak-maksimalan program-progran kemandirian yang akan atau telah dilaksanakan. Bisa kita logika apabila dengan duduk diam bisa mendapatkan Dana Bantuan Langsung kemudian bantuan RASKIN, tentunya tidak perlu lagi warga bersusah-susah untuk melaksanakan program pengentasan kemiskinan baik di bidang Peternakan Perikanan maupun di bidang yang lain.

Pesimisme ini walaupun beralasan namun tidak bisa dijadikan dasar untuk menghentikan program-program kemandirian. Justru kondisi ini menjadi pemacu untuk terus mengajak warga masyarakat tergerak untuk mandiri dan bekerja untuk mengangkat dari jurang kemiskinan. Dalam era-era yang lalu program pengentasan kemiskinan di bidang peternakan perikanan telah banyak dilaksanakan dan membawa hasil yang cukup signifikan. Apabila sekarang program-program ini dijaga kelestariaannya dan di modifikasi sedemikian rupa diyakini masih bisa menghasilkan sesuatu yang signifikan.

2. Kapabilitas Aparat

Langkah dalam melaksanakan program pengentasan kemiskinan di daerah tidak akan lepas dari peran penting aparat birokrasi sebagai leading sector lewat instansi terkait sebagai kepanjangan tangan dari Kepala Daerah. Dalam setiap program pemerintah tentunya terdapat acuan program baku yang semestinya menjadi acuan kerja aparat birokrasi. Acuan ini tentunya harus dikuasai dan harus satu persepsi sehingga dilapangan tidak terdapat satu acuan kerja namun banyak versi hingga menjadi carut marut. Satu persepsi dalam melihat aturan ini menjadi sangat penting karena acuan yang ada nantinya akan dipergunakan untuk melayani masyarakat miskin yang nota benenya berpendidikan rendah, perbedaan persepsi tentang aturan akan sangat membingungkan mereka dan juga bisa menimbulkan friksi emosi yang berakibat gagalnya konsep program.

Mental aparat birokrasi dalam hal ini harus juga menjadi sentral pemikiran dimana etos kerja dan semangat untuk mengabdi sepertinya harus ditingkatkan terutama aparat birokrasi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Program pengentasan kemiskinan dimanapun akan sarat dengan sorotan minir kinerja para aparatnya baik masalah pelayanan, kinerja yang lamban, bahkan masalah moralitas. Karena program pengentasan kemiskinan di bidang peternakan dan perikanan biasanya menggunakan sistem proyek dan langsung berinteraksi dengan masyarakat tentunya kapabilitas aparat birokrasi yang terlibat di dalamnya harus benar-benar capable dan menguasai di bidangnya.

3. Tahapan Kinerja

Tahapan kinerja dalam hal ini harus tercantum dan diatur dengan jelas pada acuan kerja program yang akan dilaksanakan hingga terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan dalam setiap langkah-langkah. Tahapan itu adalah :

  1. Tahapan Perencanaan

Tahapan perencanaan merupakan tahapan awal suatu program. Proses ini seyogyanya dimulai dengan pengumpulan data valid dilapangan seperti berapa KK warga miskin yang perlu dibantu, sudah pernah mendapat bantuan sejenis atau belum, dan data awal lain yang dibutuhkan. Kemudian dalam penentuan wujud bantuan seyogyanya diberikan keleluasaan kepada warga sasaran untuk memilih opsi bantuan pengentasan kemiskinan yang mereka inginkan namun tetap harus diselaraskan dengan tujuan target awal yang akan dicapai. Unsur botom up planing tetap harus dikedepankan dengan negosiasi apabila tidak sesuai dengan opsi. Setelah proses ini selesai mulailah renstra dibuat berdasarkan perundang-undangan yang berlaku

  1. Tahapan Implementasi

Tahapan implementasi dapat dibagi beberapa langkah yaitu :

- Pre Implementasi Program

Pre implementasi program merupakan kegiatan persiapan jalannya program seperti pendataan penerima bantuan, pengisian formulir, pembentukan kelompok-kelompok, pelaksanaan koordinasi dengan instansi dan pemerintahan desa, pembelian bibit unggul ternak, dan lain sebagainya.

- Implementasi Program

Implementasi program merupakan acara inti dalam pelaksanaan sebuah program. Dalam kegiatan ini bantuan ternak mulai dibagikan, penyuluhan, pendampingan, sampai dengan pemasaran.

  1. Tahapan Evaluasi

Tahapan evaluasi merupakan tahapan dimana semua proses jalannya proyek telah selesai dilaksanakan. Dengan adanya evaluasi akan didapat beberapa hal yang mungkin harus diperbaiki dalam melaksanakan proyek selanjutnya dan juga faktor pengawasan terhadapan para resipien (penerima bantuan) untuk terus menjaga agar bantuan yang diberikan benar-benar diperlakukan dan menghasilkan sesuai dengan aturan main yang berlaku.

D. Tahapan Lanjut

Tahapan ini merupakan tahapan yang berisi semua kegiatan agar program ini terus berkelanjutan baik di daerah sasaran maupun bergerak ke daerah-daerah lain sehingga keseluruhan wilayah dapat menerima dan melaksanakan dengan baik dengan hasil yang baik pula.

4. Contoh Alternatif Bentuk Program

Program Gaduhan Ternak

Program gaduhan ternak merupakan program pengentasan kemisikinan yang dulu pernah diterapkan. Program ini secara garis besar adalah program bantuan bibit ternak; sebagai contoh ternak kambing ; dimana bantuan ini memberikan kewajiban kepada penerimanya untuk mengembalikan kambing yang diterima dalam jangka waktu tertentu dalam bentuk ternak kambing juga hasil budi dayanya. Ternak Kambing pengembalian ini kemudian dipergunakan untuk membantu masyarakat atau kelompok lain. Demikian seterusnya. Skema dasar program gaduhan ternak ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Program gaduhan ternak kambing diturunkan dalam bentuk proyek baik dengan pembiayaan APBD, APBN, Dana Alokasi Desa, Program Pengembangan Kecamatan, maupun pembiayaan lain. Dapat pula mengambil dari dana bantuan pihal lain non pemerintah. Program ini dilaksanakan dalam bentuk proyek karena apabila dimasukkan dalam bantuan murni maka bantuan ini bersifat hibah tidak bisa dituntut pertanggungjawaban peruntukannya dan apabila dimasukkan dalam klausul pinjaman belum ada perda yang mengaturnya.

Target penerima program ini adalah mereka yang secara ekonomi tergolong warga miskin dengan kriteria disesuaikan dengan acuan pengukuran tingkat kemiskinan yang valid. Lingkup wilayah sasaran adalah per dukuh dengan koordinasi monitoring dilakukan pada tingkat desa. Per dukuh diusulkan satu kelompok dengan lima anggota warga miskin . Dalam hal ini penerima bantuan harus mempunyai komitmen dan niat baik untuk menyukseskan program ini. Jika bantuan ternak kambing sudah turun maka pendistribusiannya ketua kelompok mendapatkan dua ekor kambing satu jantan dan satu betina. Anggota yang lain mendapatkan satu betina. Hal ini dimaksud agar mudah dalam pengawasan dan interaksi antar anggota kelompok. Jika sudah tiba masa kawin , kambing betina dikawinkan dengan kambing jantan yang dirawat oleh ketua kelompok. Setelah mempunyai anak dalam jangka waktu satu sampai dengan 1,5 tahun ternak dikembalikan dengan menyerahkan anakan kambing sesuai dengan bantuan yang telah diterima. Kambing-kambing yang telah dikembalikan ini nantinya akan diserahkan atau diputar kembali untuk bantuan bergulir pada warga atau kelompok lain.

Besar anggaran untuk membiayai program ini tergantung dari berapa target wilayah yang akan dituju. Perlu digaris bawahi bahwa tidak setiap daerah cocok untuk berternak kambing oleh karena itu program ini seharusnya diprioritaskan di wilayah-wilayah yang potensi untuk pengembangan ternak kambing baik. Sebagai ilustrasi umum kebutuhan dana perkelompok adalah sebagai berikut :

No.

Kebutuhan

Item

Harga Satuan

Jumlah

1.

2.

Kambing

Dana Bantuan Pembuatan kandang

- Ketua Kelompok

- Anggota

6



2

4

500000



100000

100000

3000000



200000

400000





Rp. 3.600.000

USAHA PENGEMBANGAN BIDANG PERIKANAN

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Pendahuluan

Masyarakat Kabupaten Wonosobo sebenarnya sudah sangat akrab dengan kolam ikan atau sering disebut dengan blumbang. Menurut versi masyarakat , hasil dari kolam ikan belum bisa menjadi satu harapan mata pencaharian yang dapat diunggulkan. Dibeberapa wilayah yang kebanyakan mata pencaharian penduduknya nelayan darat memang hasil ikan air tawar menjadi andalan baik dari hasil kolam, karamba, atau memancing,. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa hasil yang didapat dari sektor ini belum begitu menggembirakan. Stigma yang ada di masyarakat bahwa ternak ikan hanya bisa mendapatkan hasil pada waktu hari raya saja (mbedah blumbang). Kondisi lain , pemasaran ikan air tawar kalah bersaing dengan ikan laut yang mungkin relatih murah.

Data yang ada menyebutkan bahwa pada tahun 2006 produksi perikanan Kabupaten Wonosobo mencapai 12 Milyar Rupiah yang terbagi-bagi dalam beberapa lahan seperti kolam, waduk, sungai, dan budi daya. Hal yang menarik ini adalah hampir 7 milyar rupiah dari hasil produksi perikanan di Kabupaten Wonosobo ternyata tersedot ke PT Aqua Farm. Kalau data ini benar maka hasil perikanan rakyat hanya sekitar 35% dari hasil keseluruhan, jumlah yang luar biasa kecil. Ada beberapa alternatif yang bisa ditawarkan untuk mengangkat sektor perikanan ini walupun hal itu akan banyak tergantung dengan banyak faktor seperti kondisi alam, kondisi sosial masyarakat, dan lain sebagainya.

2. Kampanye Sehat Menkonsumsi Ikan Air Tawar

Untuk mengangkat pemasaran ikan air tawar produk lokal perlu beberapa kiat agar permintaan terhadap ikan air tawar meningkat. Apabila pasar membaik tentunya gairah dari sektor perikanan ini akan muncul kembali. Beberapa waktu yang lalu sering kali didengungkan kampanye makan ikan oleh pemerintah pusat dikarena kandungan gizi dan protein pada ikan yang sedemikian baik. Namun dalam seiring waktu program ini melemah.

Pemkab dalam hal ini instansi terkait semestinya segera mengambil alih kampanye makan ikan ini untuk diterapkan secara lokal. Selain bisa menambah demand terhadap produk perikanan juga sekaligus menyehatkan masyarakat dan memberikan asupan nutrisi yang baik bagi kecerdasan anak.

Kampanye ini dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode. Tetapi yang penting dari sebuah kampanye sosialisasi adalah kontinyuitas tidak hanya sesaat saja. Untuk merubah kebiasaan masyarakat yang sudah bertahun-tahun diperlukan waktu yang cukup panjang pula untuk merubahnya.

Untuk menyukseskan kampanye ini diperlukan koordinasi yang baik antar instansi yang terlibat. Untuk mensosialisasikan kepada anak usia sekolah tentunya peran sekolah menjadi dominan. Demikian juga terhadap masyarakat pedesaan, peran aparat desa, penyuluh, dan lembaga atau instansi seperti kesehatan lain sangat diperlukan.

Media untuk kampanye yang mungkin adalah :

Ø sosialiasi penyuluhan langsung atau lewat agen-agen sosialisasi,

Ø pembuatan liflet dan literatur pendukung,

Ø menggunakan media radio

Ø bekerja sama erat dengan peternak ikan untuk membantu sosialisasi

Ø menampilkan menu ikan dalam beberapa acara pemkab

Ø pembuatan baliho ditempat strategis, dll

Jika kampanye ini berhasil maka usaha perikanan darat akan mengalami kemajuan yang signifikan dikarenakan usaha perikanan yang saat ini hanya sebagai sambilan bisa cepat berkembang bahkan bisa kehabisan stok karena lahan perikanan darat pun sebenarnya masih sedikit. Jika permintaan pasar meningkat pesat maka dimungkinkan banyak lahan yang tidak produktif didaerah air yang dapat dimanfaatkan. Kalau ikan darat sudah banyak masuk menjadi menu harian maka perputaran produksi perikanan akan semakin terjaga bahkan tidak mungkin bisa menjadi andalan Kabupaten Wonosobo

3. Menarik Investor

Dari data tahun 2006 didapat suatu kondisi yang cukup mengejutkan dimana satu-satunya investor besar bidang perikanan yaitu PT Aqua Farm mampu memproduksi dan menghasilkan 65% dari hasil perikanan keseluruhan di Kabupaten Wonosobo. Kondisi ini sebenarnya dapat memacu investor lain untuk datang dan menanam modallnya. Namun penarikan investor ini tidak secara serta merta, perlu pendekatan dan sharing yang jelas dengan masyarakat sekitar sehingga tidak terkesan Pemkab mendatangkan investor tetapi mengorbankan kepentingan rakyat lokal. Perlu adanya nota kesefahaman atau hal sejenis dengan masyarakat sekitar sehingga jelas sharing profit maupun sharing programs.

Sebelum Pemkab berusaha secara intensif untuk mencari atau mengenalkan potensi perikanan kita kepada para investor, perlu diadakan study evaluasi tentang keberadaan PT Aqua Farm apakah benar-benar menguntungkan atau tidak bagi Pemkab dan masyarakat sekitar. Selain itu juga perlu masukan dari pihak Investor sendiri tentang kesulitan maupun kemudahan apa yang di dapat di Kabupaten Wonosobo. Setelah itu baru dibuat formula yang tepat untuk dipergunakan mencari investor yang sehat dan menguntungkan pada semua pihak.

Hal di atas ini menjadi penting karena investor yang masuk ke Wonosobo setidaknya jangan sampai terjadi friksi dengan pengusaha lokal dan semestinya benar-benar dapat menguntungkan baik secara profit, terserapnya tenaga kerja, maupun transfer of knowledge .

Dengan dasar perhitungan hasil PT Aqua Farm yang mencapai 8 milyar pada tahun 2006, jika tidak ada kasus yang menonjol, tentunya bisa menjadi dasar promosi yang kuat bagi Kabupaten Wonosobo bahwa potensi perikanan darat menyimpan kekuatan perekonomian yang besar.

4. Pendirian Tempat Pelelangan / Pasar Ikan Air Tawar Yang Representatif

Kabupaten Wonosobo saat ini memang sudah mempunyai pasar ikan yang terletak ditengah kota. Akan tetapi dirasa kurang representatif dan kurang dalam menyerap hasil perikanan darat di Kabupaten Wonosobo. Memang pada hari raya Idul Fitri terlihat ramai pengunjung berjubel. Setelah hari biasa terlihat relatif sepi.

Apabila dipelajari di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) daerah pantai, terlihat bahwa hasil tangkapan nelayan langsung dibawa kesana dan dilelang sehingga hasilnya langsung diserahkan nelayan tanpa perantara sehingga secara teori keuntungan nelayan jauh lebih besar. Apabila nelayan tidak lewat pelelangan tetapi lewat tengkulak tentunya harga akan terbebani beberapa cost baru karena jalur melewati banyak orang. Dilihat dari kebiasaan panen ikan darat di Wonosobo, kebanyakan memakai sistem tebas atau borongan satu kolam dihargai dengan harga tertentu baik ikan kecil maupun besar. Dalam hal ini tentunya ada kelebihan dan kekurangan namun yang pasti harga tebas seperti ini biasanya jauh dari harga jual sebenarnya. Mengapa para peternak ikan lebih memilih cara ini? Salah satunya dikarenakan belum ada wahana termudah untuk menjual hasil ikannya. Peternak ikan tidak mau repot-repot ke pasar untuk menjual hasil usahanya. Jika sudah ada tempat pelelangan ikan darat maka diharapkan peternak ikan termotivasi untuk menjual hasil usahanya secara lebih serius dan apabila kampanye makan ikan berhasil wahana pasar ikan dan pelelangan ini akan menjadi tempat yang ramai dan mempunyai nilai ekonomis tinggi.

5. Budi Daya Ikan Menyelaraskan Pasar

Dalam melakukan budi daya tertentu semestinya mengacu pada pasar, jangan sampai produk yang dibudidayakan ternyata tidak diminati pasar. Jadi dapat disimpulkan faktor pemasaran dapat ditentukan terlebih dahulu sebelum menentukan budi daya.

Kecepatan dalam merespon tren seperti yang telah dibahas pada Bab I menjadi faktor yang cukup menentukan agar dapat mencapai hasil maksimal secara ekonomi. Sebagai salah contoh Budi daya Lobster Air Tawar yang beberapa waktu yang lalu baru naik daun. Apabila dalam respon trend terlambat maka akan masuk pada era kejenuhan pasar, namun apabila cepat dalam merespon trend maka akan cepat pula dalam merebut pasar dan dapat segera memperoleh kontak dengan perusahaan-perusahaan yang mebutuhkan dimana pada awal booming kuota masih kurang.

Selain cepat dalam merespon trend perlu juga untuk menganalisa dan memprediksi trend ke depan. Dengan prediksi ini dapat memperkirakan produk perikanan apa yang digemari oleh pasar di masa yang akan datang atau bahkan bisa menciptakan booming baru yang dimulai dari sebuah prediksi yang tepat. Walaupun unsur spekulasi ada namun jika didasari dengan prediksi yang matang tentunya akan didapat hasil yang maksimal.

6. Pembukaan Lahan Baru

Masalah budi daya perikanan lokal mempunyai salah satu kendala yaitu kurangnya lahan dan media air yang cocok untuk budi daya. Lahan yang dimiliki masyarakat tidak semua mempunyai akses ke air demikian juga wilayah yang banyak air kurang cocok dijadikan sentra perikanan. Sebagai contoh Sungai Serayu yang mempunyai debet besar saat ini kondisi air kurang memungkinkan untuk model perikanan karamba atau dipergunakan untuk mengaliri lahan perikanan dikarenakan air terlalu banyak mengandung lumpur akibat erosi. Sedangkan Waduk Wadaslintang debet airnya tidak stabil ,pada waktu kemarau air susut dengan cukup signifikan.

Kondisi alam yang seperti ini tidak memungkinkan seluruh wilayah Wonosobo untuk dipergunakan budi daya perikanan. Salah satu solusinya adalah memaksimalkan wilayah-wilayah yang bisa menjadi sentra perikanan dengan memperluas lahan yang mungkin untuk pengembangan perikanan darat. Selain itu peternak ikan yang hanya dijadikan sambilan tetap diberi perhatian untuk bisa berproduksi dengan baik agar dapat menghasilkan dan memperoleh nilai ekonomis yang baik.Di daerah dengan kondisi perairan yang kurang bisa diberi alternatif untuk membudidayakan perikanan lain seperti lele dan belut

Pembuatan Wahana Percontohan Pengelolaan Usaha Peternakan Perikanan

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Pendahuluan

Pembuatan sebuah wahana percontohan yang representatif sudah sangat diperlukan baik ditingkat Nasional maupun Daerah. Hal ini menjadi perlu dikarenakan kondisi peternakan perikanan kita yang cenderung fluktuatif bahkan stagnan. Belum lagi adanya isu-isu negatif yang menghantam sektor ini seperti flu burung, sapi gila, pencemaran air, dan lain sebagainya. Kondisi ini menjadi semakin menyulitkan peternak yang kebanyakan merupakan peternak kecil.

Akibat dari lemahnya pengembangan sektor peternakan perikanan mengakibatkan bidang ini hanya menjadi nilai tambah dari kebanyakan masyarakat bukan sebagai mata pencaharian utama sehingga tingkat keprofesionalan dan motivasi yang dihasilkan menjadi sangat rendah. Ternak dan kolam ikan hanya menjadi sekedar hoby atau sebagai tabungan untuk dikonsumsi pada waktu hari besar tertentu. Oleh karena itu utnuk pembenahan bidang pertenakan dan perikanan ini perlu diberikan contoh nyata baik dari tingginya mutu hasil maupun baiknya sebuah kondisi peternakan perikanan dilihat dari perawatan sampai dengan pemanfaatan nilai tambah yang lain.

Pembuatan sebuah lahan peternakan perikanan yang dikelola oleh Pemkab bisa dijadikan solusi untuk memberikan contoh riil tata cara pengelolaan yang baik bagi masyarakat agar termotivasi untuk terus berusaha dan tertarik menekuni bidang agribisnis ini.

2. Tujuan Pembuatan Wahana Peternakan Perikanan

- Memberikan Wahana Percontohan bagi masyarakat tentang tata cara pengelolaan peternakan perikanan baik dari pembibitan, pengobatan, tata kelola kandang, dan hal lain yang berhubungan dengan bisnis agribisnis

- Memberikan motivasi dan pembelajaran kepada masyarakat luas tentang pengelolaan peternakan perikanan yang baik

- Memberikan Wahana baru di Kabupaten Wonosobo yang dipergunakan sebagai tempat rekreasi dan edukasi

- Memberikan Pendapatan Asli Daerah dari sektor peternakan perikanan

3. Sekilas Wacana Wahana Peternakan

Wahana Peternakan dibuat tidak hanya memenuhi tata kelola peternakan dan perikanan saja namun juga mengacu nilai estetika tata ruang yang rapi karena selain memenuhi fungsi sebagai wahana pembelajaran juga harus bisa memberikan aura wisata edukasi yang nyaman dan menarik. Adapun wacana Wahana Peternakan ini berisi :

3.1. Kompleks A

- Pendopo

Pendopo berfungsi sebagai ruang serba guna. Dapat dipergunakan sebagai ruang penerima tamu, ruang seminar,loka karya, bisa juga dipergunakan sebagai ruang expo.

- Taman

Pembuatan taman diperuntukkan untu menambah suasana nyaman di wahana peternakan ini karena selain sebagai wahana percontohan, dipergunakan pula untuk menjadi tempat tujuan wisata atau rekreasi

- Rumah Makan

Rumah makan ini dikhususkan menampilkan menu hasil dari produk wahana peternakan ini seperti daging, ikan, atau telur. Model dari rumah makan ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa mencerminkan kenyamanan sebuah resto. Pengunjung bisa juga langsung memilih sendiri daging atau telur mana yang akan disantap. Bisa juga memancing sendiri untuk penggemar ikan untuk disantap di tempat

- Home Stay

Home stay atau tempat menginap dipergunakan untuk melayani tamu wisatawan yang ingin mengalami suasana baru di sebuah peternakan. Juga dipergunakan untuk menginap para tamu baik yang sedang study banding atau magang.

- Ruang Pengolahan

Ruang pengolahan ini sebenarnya diperuntukkan untuk mengolah bahan mentah yang disiapkan untuk menu para tamu. Karena tidak semua tamu menyukai fresh meat maupun fresh fish hingga penangan perlu tempat tertutup.

3.2. Kompleks B

- Kantor Dinas Terkait

Untuk pengelolaan maupun untuk mempermudah koordinasi maka instansi terkait seperti Dinas Peternakan dan Perikanan ditempatkan satu kompleks dengan wahan peternakan ini. Hal ini juga dimaksudkan agar mudah dalam pencarian informasi dan transfer ilmu bagi para peternak yang melakukan study banding di sana.

- Ruang Pamer ,Informasi, dan Perpustakaan

Ruang pamer dan informasi ini berguna merekam semua kegiatan yang ada di Wahana Peternakan ini. Selain itu secara umum juga memberikan gambaran umum tentang kondisi peternakan di Kabupaten Wonosobo. Yang ditampilkan disini adalah data-data baik literatur, gambar, foto, soft copy , film, dan apapun yang berupa data peternakan dan perikanan.

3.3. Komplek C

- Bagian ternak non unggas

Bagian ini berisi ternak non unggas seperti kambing, domba, sapi, dll yang tertata rapi sesuai dengan teori standar peternakan yang baik. Didalamnya termasuk diadakan kegiatan-kegiatan pembibitan ternak dan semua kegiatan yang berhubungan manajemen sebuah peternakan

- Bagian ternak unggas

Bagian ini berisi ternak unggas seperti ayam buras,ayam petelor, itik, dll yang disesuaikan dengan standar peternakan yang baik, termasuk kegiatan penetasan maupun budi daya telur.

- Bagian Perikanan

Bagian ini berisi sektor perikanan seperti mujair, nila, lele, dll yang disesuaikan dengan standar peternakan yang baik, termasuk didalamnya pemijahan dan pembibitan

- Ranch (Umbaran)

Tempat dimana ternak tidak dikandang tetapi seperti digembalakan (diumbar)

- Lahan Pakan

Dalam Wahana ini disediakan sebidang lahan yang dipergunakan untuk penyediaan pakan ternak yang ditanami segala macam pakan hijau seperti rumput gajah, dan juga dibuat sebuah wahana yang memproduksi pakan ternak sederhana untuk jenis ternak tertentu seperti dedak dan lain sebagainya, agar dapat dicontoh oleh para peternak selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

- Laboratorium dan Pusat Perawatan Hewan

Laboratorium ini kegiatan penelitian dan tempat bertanya secara tehnis detail lengkap dengan jawaban ilmiahnya. Kegiatan lain yang dilakukan adalah menemukan masalah-masalah yang timbul di suatu wilayah yang diakibatkan oleh banyak faktor dan segera mencari solusinya sehingga penanganan benar-benar sesuai dengan pokok permasalahannya. Dalam wahana ini juga dibangun sebuah wahana Medical centre khusus hewan baik berbentuk klinik maupun rumah sakit hewan

- Pasar Hewan

Untuk lebih menambah aura sentral keilmuan peternakan dan juga memberikan wahana bagi para peternak baik menengah keatas maupun individual, maka pasar hewan selayaknya dibangun dengan menambah beberapa kelengkapan non standar seperti ruang istirahat yang dilengkapi dengan jaringan internet sehingga bisa dimanfaatkan untuk mencari buyer dari luar daerah maupun luar negeri

- Penjagalan(Rumah Pemotongan Hewan)

Penjagalan juga dapat dibangun dengan sistem pengolahan modern baik dari pemotongan, proses perawatan daging, sampai dengan pengepakan dan tata cara pengiriman

- Wahana Pendukung

Wahana pendukung ini dapat berupa banyak hal yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Namun disarankan diperbanyak media praktek seperti pemanfaatan kotoran ternak (biogas dll)., penyamakan kulit ,pembuatan kerajinan dari bahan ternak yang terbuang, dll.

- Parkir

Tempat parkir dibuat pada dua bidang dikarenakan satu bidang dipergunakan khusus tamu dari Wahana Peternakan sedangkan satu lagi dipergunakan untuk parkir ternak yang akan ke penjagalan , pusat kesehatan hewan , dan pasar hewan

4. Nilai Tambah

Dengan adanya Wahana Peternakan ini tidak hanya akam menambah media pendidikan kepada para peternak saja , namun jika dikelola dengan benar akan memberikan banyak nilai tambah antara lain :

- wahana rekreasi baru yang tentunya bisa menjadi alternatif tujuan wisata

- memperoleh hasil ternak yang baik mutu sehingga bisa dimanfaatkan sebagai hadiah pemkab pada waktu lomba-lomba kepada masyarakat

- hasil ternak dapat diberikan kepada desa atau kelompok tani yang berhasil untuk memacu motivasi dalam wujud bantuan ternak hibah maupun bersyarat

- dapat dijual baik dalam bentuk ternak maupun bibit maupun pakan ternaknya yang hasil dari penjualan ini masuk kas daerah yang sebagian besar dipergunakan untuk pembiayaan operasional wahana ini

- menghasilkan PAD

- sebagai project leader wahana pendidikan peternakan baik tingkat propinsi maupun nasional

5. Langkah Awal Pembangunan

Pembuatan wahana seperti ini tentunya membutuhkan persiapan perencanaan yang matang dan dana yang cukup besar. Namun jika pembagunan ini dilandasi untuk kepentingan daerah dan masyarakat tentunya sudah selayaknya untuk diusahakan sebaik-baiknya. Langkah awal dari pembangunan wahana ini yaitu dengan membuat proposal pembangunan detail berdasarkan perencanaan yang matang. Kemudian setelah dirasa cukup baik dengan perincian dana dan kebutuhan yang realistis barulah diajukan untuk mendapatakan dana baik dari APBD Kabupaten, APBD Propinsi, APBN, maupun bantuan dari lembaga lain baik lembaga pemerintah maupun lembaga swasta. Tidak menutup kemungkinan jika pemkab menggandeng pihak ketiga untuk pembangunan dan investasi. Bidang peternakan sebenarnya masih banyak diminati oleh golongan kalangan atas maupun konglomerat baik hanya untuk sekedar hoby maupun benar-benar murni bisnis. Peluang untuk mendapatkan investor dalam pembangunan wahana peternakan ini diperkirakan masih cukup besar.

USAHA DASAR PEMBANGUNAN BIDANG PETERNAKAN PERIKANAN

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat


Dalam membangun sebuah aspek pembangunan dibutuhkan langkah yang terpadu dan terencana rapi sehingga apa yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan benar-benar dapat terealisasikan. Selain terpadu kesungguhan birokrasi semestinya harus maksimal dan idealis untuk benar mensejahterakan rakyat. Bidang peternakan perikanan merupakan sebuah bidang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi namun juga mempunyai resiko tinggi. Oleh karena itu dalam usaha untuk meningkatkan hasil peternakan perikanan perlu keseriusan untuk mencapai tujuan maksimal.

1. Validitasi Data Base Peternakan

Data base peternakan merupakan elemen primer dalam rangka pengembangan budi daya ternak dan perikanan. Data yang dibutuhkan mencakup segala hal tidak hanya jumlah ternak, hasil produksi, luas lahan, jumlah peternak / kelompok tani, namun lebih detail dari itu antara lain dengan mendata dengan cermat sentra-sentra peternakan perikanan sekaligus data tentang pengaruh faktor cuaca dan alam Wonosobo terhadap hewan jenis tertentu baik yang sudah dikembangkan di sentra atau ranch maupun belum. Data tentang faktor alam ini sangat penting karena ditengarai banyak hasil produksi peternakan dan perikanan kita yang tidak maksimal bahkan gagal dikarenakan ketidakcocokan hewan ternak terhadap suhu atau kondisi alam setempat.

Dengan adanya data yang lengkap dan valid, dalam pengembangan peternakan pertanian dapat sedini mungkin dipilih jenis ternak atau varian ternak yang tepat dikembangkan di wilayah setempat. Wilayah Wonosobo mempunyai banyak kondisi alam yang berbeda-beda sehingga tidak bisa mengeneralisasi varian ternak untuk dikembangkan diseluruh wilayah Wonosobo. Masing-masing wilayah mempunyai karateristik alam yang berbeda hingga jangan sampai terjadi ada program pemerintah yang salah dalam menempatkan varian tertentu dalam wilayah yang tidak sesuai.Selain itu data base tentang jumlah peternak dan jenis ternaknya divalidkan untuk dapat menentukan program sasaran yang tepat khususnya program penyuluhan lapangan dan jumlah stimulan yang bisa diberikan kepada petani.

2. Revitalisasi Penyuluhan

Penyuluh merupakan ujung tombak dari pemerintah untuk menyukseskan program yang telah direnstrakan. Dengan posisi demikian perlu diadakan peningkatan kinerja dari para penyuluh melihat kompleksnya masalah di masyarakat baik di dalam sektor peternakan perikanan maupun faktor sosial sekitarnya.

A. Pendidikan Penyuluh Peternakan

Penyuluh peternakan dan perikanan harus terus mendapat asupan keilmuannya agar perkembangan terbaru di bidang peternakan dan perikanan dapat terus terupdate hingga dapat memberikan keilmuannya kepada masyarakat peternak sesuai dengan tupoksi yang telah ditetapkan. Asupan pengetahuan baru dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, buku, maupun internet. Dinas yang manaunginya semestinya membuat perpustakaan khusus yang dilengkapi akses internet sebagai wahan belajar dan pengembangan keilmuan para Penyuluh ini

B. Pendataan Masalah

Pendataan masalah juga sangat penting karena bisa menjadi dasar pembuatan materi penyuluhan agar masalah tersebut dapat segera diatasai. Selain itu masukan-masukan dari peternak dapat menambah khasanah keilmuan dan bahan evaluasi terhadap konsep materi penyuluhan agar keilmuan yang ditransfer lewat penyuluh benar dibutuhkan dan menjadi solusi tepat dari masalah yang dihadapi para peternak.

C. Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan semestinya dibuat baku dengan dasar keilmuan terbaru dan terbaik yang setiap tiga atau enam bulan diadakan evaluasi atau revisi disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang muncul dimasyarakat setempat. Materi penyuluhan dibuat per kecamatan dengan asumsi materi tidak bisa digeneralisasikan karena perbedaan faktor alam

D. Pembuatan Literatur

Selain literatur yang ada dan sudah diberikan kepada petani, perlu dirintis usaha untuk membuat literatur sendiri yang mengadopsi kondisi riil wilayah-wilayah di Wonosobo hingga muatan daerah ini benar-benar dapat dipakai oleh peternak di Wonosobo secara tepat dan benar.

E. Penyuluhan Dialogis

Kendala yang sering ditemui di lapangan adalah keengganan dari para peternak terutama peternak besar dalam menerima kedatangan para penyuluh peternakan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

- Peternak merasa sudah mengetahui semua ilmu yang dibutuhkan untuk mengembangkan peternakannya

- Ada ketidakcocokan prinsip antara penyuluh dengan peternak berkisar penyuluh berusaha agar hasil ternak baik dan sesuai standar mutu sedangkan beberapa peternak berprinsip yang penting menghasilkan

- Pendekatan beberapa penyuluh yang masih menggunakan konsep monologis hingga berkesan menggurui,dll

Beberapa faktor diatas memang memerlukan suatu strategi yang tepat agar tujuan tetap dapat diraih. Konsep penyuluhan dialogis semestinya menjadi salah satu solusi yang baik. Dengan konsep ini peternak dianggap sebagai mitra bukan ”binaan”. Kehati-hatian dalam mempelajari karakter baik pribadi peternak maupun masyarakat di suatu daerah perlu diterapkan untuk memperlancar penyuluhan. Konsep ini sudah banyak dipakai oleh para penyuluh dilapangan namun masih banyak pula yang belum bisa melakukan penyuluhan model ini sehingga harus terus disosialisasikan.

3. Pembenahan Manajemen Peternak

Dari beberapa kasus kebangkrutan peternak menengah terutama peternak sapi ternyata setelah ditelaah merupakan kesalahan manajemem pengelolaan. Kebanyakan dari mereka hanya mengejar untung tanpa mengindahkan mutu maupun strategi pasar. Sebagai contoh narasi banyak sapi yang belum waktu potong sudah dipotong hingga mutu daging kurang maksimal dan nilai ekonomisnya rendah hanya untuk mengejar agar keuntungan tetap mengalir tanpa mempertimbangkan dampak kedepan. Contoh yang lain adalah banyak sapi yang dikirim ke daerah lain tanpa mempertimbangkan jarak tempuh hingga banyak sapi yang stress dan pada waktu dijual di daerah tujuan harganya turun signifikan. Hal ini sering terjadi karena pola pikir beberapa peternak yang selalu membayangkan untung besar namun tanpa perhitungan baik perhitungan tehnis maupun perhitungan bisnis. Penghitungan nilai investasi dan breaking point sepertinya tidak menjadi sesuatu yang penting.

Kondisi ini sangat tidak menguntungkan karena peternakan perikanan merupakan bidang yang penting namun bukan merupakan bahan pokok yang demand sangat tergantung dari trend harga maupun selera masyarakat. Kesalahan strategi manajemen dapat membuat harga jatuh dengan seketika atau bahkan tidak terjualnya produk peternakannya. Oleh karena itu perlu pendekatan khusus dan penekanan dalam penyuluhan pembenahan manajemen serta pendampingan yang melekat untuk mengawal peternak agar tepat dalam mengambil strategi ekonominya.

4. Pilot Project Percontohan

Di Kabupaten Wonosobo terdapat beberapa peternakan maupun wahana budi daya ikan yang sudah maju baik usaha dari modal perseorangan atau lembaga maupun bantuan dari pemerintah. Peternakan yang sudah maju ini di data dan dilakukan kerja sama dengan pihak instansi terkait untuk menjadi peternakan percontohan yang menjadi tempat acuan peternak lain yang ingin memajukan usahanya. Selain menjadi tempat menimba ilmu , diusahakan pula agar bisa menerima magang dari kelompok peternak agar ilmu yang ada dapat terserap dengan baik.

Apabila Pemerintah Kabupaten sudah mempunyai wahana percontohan yang dikelola oleh Pemerintah maka proses transfer ilmu dengan model ini akan lebih mudah lagi karena tidak harus merepotkan peternak yang tempatnya dibuat sebagai percontohan. Namun apabila Pemkab belum mempunyai maka seyogyanya segera dibangun sebuah wahana percontohan baik peternakan maupun perikanan yang menggunakan kaidah tata usaha peternakan yang benar sekaligus model manajemennya. Percontohan seperti ini akan lebih efektif dari pada menggunakan penyuluhan teoritis karena dengan adanya wahana percontohan peternak bisa langsung melihat dan termotivasi untuk dapat menghasilkan seperti yang ada di wahana tersebut. Bisa dikatakan wahan ini bisa menjadi sebuah ”institut” bagi peternak di Kabupaten Wonosobo.

Wahana ini bisa juga menjadi BUMD dimana hasil dari peternakan perikanan seperti ternak, bibit, bisa dijual dan menghasilkan PAD. Penjualan dapat secara bebas namun juga dapat memberikan keringanan kepada para peternak lokal untuk mendapatkan bibit yang baik dari wahana ini.

5. Penambahan Tenaga Profesional

Di Kabupaten Wonosobo terasa kurang sekali tenaga Dokter Hewan baik dari PNS maupun non PNS, padahal dokter hewan sangat diperlukan selain menangani hewan yang sakit atau suatu kondisi hama ternak, juga dapat dimaksimalkan untuk membantu penyuluhan di lapangan. Selain itu keberadaan dokter hewan bisa membantu proses perencanaan dan pengecekan validitas data base yang telah dibuat dan memberikan rambu bagi data base yang akan dibuat.

Pemberian formasi bagi dokter hewan dirasa perlu setidaknya di setiap kecamatan terdapat satu dokter hewan yang bertugas di seluruh wilayah yang dibebankan kepadanya. Bisa juga ditambah beberapa untuk bertugas di laboratorium peternakan maupun di wahana percontohan.

6. Pendirian Laboratorium Peternakan

Pendirian sebuah laboratorium peternakan dapat diajukan satu paket dengan pembuatan wahana percontohan (pilot project) peternakan perikanan milik pemkab. Laboratorium ini kegiatan penelitian dan tempat bertanya secara tehnis detail lengkap dengan jawaban ilmiahnya. Kegiatan lain yang dilakukan adalah menemukan masalah-masalah yang timbul di suatu wilayah yang diakibatkan oleh banyak faktor dan segera mencari solusinya sehingga penanganan benar-benar sesuai dengan pokok permasalahannya.

7. Berbasis Pada Trend

Selain membudidayakan peternakan perikanan yang telah ada, tidak ada salahnya jika terus mencari informasi terbaru tentang trend produk ternak atau perikanan yang sedang diminati pasar dengan harga yang tinggi. Kecepatan dalam merespon pasar akan menjadikan peternak leading dalam start dalam pembudidayaan dan produksi awal hingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Memang jika berdasar pada trend biasanya pasar akan cepat jenuh karena terjadi booming produksi. Namun jika sudah leading dalam merepon trend tentunya pada waktu pasar sudah jenuh , keuntungan besar sudah terlebih dahulu didapat. Sekali lagi peran informasi menjadi sangat penting.