Tampilkan postingan dengan label Wacana Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2009

RANAH WISATA DANAU MENJER (Pintu Gerbang Baru Menuju Dataran Tinggi Dieng)

BY BIMO.S

Diperkenankan memakai wacana ini untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat. Wacana ini dapat dipakai di semua wilayah tidak hanya di Wonosobo dengan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing

1. Pendahuluan

Konon beratus tahun yang lalu Danau Menjer yang sekarang terletak di daerah Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, masih berbentuk rawa-rawa dan hutan belantara. Kemudian setelah gempa hebat, rawa-rawa tersebut tergenangi air hingga 70 Ha dengan kedalaman sekitar 10 meter. Untuk saat ini Danau Menjer menjadi pusat wisata alam sekaligus Pusat Tenaga Listrik. Dalam perkembangannya wilayah ini tidak terlalu banyak berubah, hanya saja terlihat wilayah hutan yang mulai berkurang dan pendangkalan air danau yang suatu ketika bisa saja membuat Danau Menjer raib. Saat ini wisata air masih menjadi andalan yaitu dengan menyusuri tepian Danau Menjer dengan menggunakan perahu / getek.

Sebagai salah satu tempat wisata di Wonosobo sebenarnya lokasi danau ini sangat menarik untuk dikembangkan. Selain tidak terlalu jauh dari Kota Wonosobo yaitu sekitar 30 km kearah utara, banyak potensi alam yang dapat dioptimalkan hingga bisa menarik banyak wisatawan dengan suatu program pengembangan terpadu dan tepat sasaran.

Dalam usaha mengoptimalkan kepariwisataan di Dataran Tinggi Dieng, pembenahan ranah wisata Danau Menjer dapat menjadi alternative bahkan suatu yang monumental dimana disana dijadikan pintu gerbang utama masuk dataran Tinggi Dieng. Sebuah alternative yang sekiranya dapat meningkatkan perform kepariwisataan Kabupaten Wonosobo untuk dapat mensejahterakan rakyat.

2. Basic Dasar Pemikiran

Wisata Danau Menjer apabila diolah akan menjadi icon yang ter-intregreated dengan Wisata Dieng. Jika pintu masuk diarahkan melewati Gerbang Danau Menjer maka akan terkondisikan hal-hal sebagai berikut :

- Terpetakannya pariwisata Wonosobo dengan lebih terstruktur

- Pengembangan jalur Menjer – Dieng agar ramai sehingga meningkatkan nilai ekonomis dan pengembangan wilayah

- Memberikan Paket Wahana Wisata yang menguntungkan Pemkab Wonosobo mengingat kepemilikan obyek Dieng kecil sehingga wisatawan yang masuk lewat Wonosobo jika jalur gerbang di pindah ke Menjer dapat singgah dan tentunya menambah deviden Kabupaten Wonosobo sendiri.

- Apabila Taman Wisata Kalianget juga dapat dikembangkan maksimal maka akan ada paket wisata unggulan Kabupaten Wonosobo yaitu Kalianget – Danau Menjer – Dataran Tinggi Dieng hingga dalam satu Kabupaten mempunyai paket wisata unggulan ( menggunakan pola paket wisata Pulau Dewata Bali )

3. Rencana Alternatif Pengembangan Ranah Wisata Danau Menjer

3.1.Pembenahan Jalan Tembus Danau Menjer – Kejajar (Dieng)

Jalan yang menghubungkan antara Danau Menjer ke Kejajar sebenarnya sudah relatif cukup baik namun mutu atau kelas jalan tersebut memang belum cukup untuk menampung arus kendaraan jika gerbang alternatif ke Dieng ini disosialisasikan. Selain itu banyak ruas jalan yang rusak atau berlubang yang perlu diperbaiki agar menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Perbaikan jalan ini sebenarnya bisa dilakukan bertahap namun tepat dengan skala prioritas yang ditentukan dari pengamatan lapangan.

3.2. Pengenalan Tempat Ziarah Ranah Menjer

Disekitar Danau Menjer terdapat tempat ziarah yang cukup terkenal yaitu Makam Kyai Nuriman. Kyai Nuriman konon meninggal dalam posisi ”topo pendem” yang sekarang lokasinya sudah dibangun dengan cukup representatif. Makam ini tepatnya berada di Desa Tlogo dan terletak di dataran renadah di bawah komplek Danau Menjer

3.3. Tempat Alternatif Untuk Zona Pelatihan Pemkab dan Wisma Tamu

Untuk menjadikan suatu tempat menjadi ramai dapat ditempuh dengan beberapa cara. Saat ini Pemkab Wonosobo belum mempunyai tempat atau gedung yang khusus diperuntukkan sebagai wisma tamu maupun Gedung Diklat. Walaupun apabila dilihat sepintas seperti kurang penting namun jika hal ini dikaitkan dengan pembenahan kepariwisataan dan keseriusan dalam pengembangannya maka hal itu bisa menjadi salah satu alternatif yang baik dan cukup relevan.

Dalam hal ini kita bisa melihat dan memperhatikan sistem pengelolaan kepariwisataan Kabupaten Semarang dengan Bandungan sebagai salah satu sentranya. Jika kita melihat kondisi di Bandungan sebenarnya tidak lebih baik kondisi alamnya dibanding dengan kondisi Kabupaten Wonosobo bagian utara. Akan tetapi di sana banyak sekali home stay, losmen, dan hotel yang selain dipergunakan untuk menginap juga dipergunakan sebagai tempat pelatihan-pelatihan atau rapat yang dilaksanakan oleh beberapa elemen. Lepas dari trend negatif Bandungan , konsep ini bisa diterapkan di Kabupaten Wonosobo dengan membuat Ranah Wisata Danau Menjer berkembang dengan semestinya.

Di sekitar Danau Menjer masih banyak terdapat lahan-lahan kosong yang bisa dipergunakan untuk Wisma Tamu yang sekaligus bisa dipergunakan sebagai Balai Diklat atau juga sebagai tempat lokakarya, seminar, maupun tempat rapat-rapat tertentu. Namun dalam hal ini perlu sebuah survei yang matang untuk menentukan tata letak yang sesuai baik dari estetika, nilai adat setempat, konstruksi, kondisi tanah, maupun biaya.

Sebuah Wisma yang multiguna tentunya harus memperhitungkan beberapa rancang bangun yang tepat seperti ruang auditorium yang cukup luas, ruang rapat, kamar meninap yang representatif dengan sarana dan prasarana yang mendukung dari setiap kegiatan yangakan dilaksanakan di Wisma tersebut. Wsma ini dalam pengelolaan Pemkab Wonosobo.

3.4. Home Stay / Hotel

Di sekitar Danau Menjer memang sudah ada beberapa home stay yang diperuntukkan bagi wisatawan. Selain itu disekitar danau sering juga dipergunakan untuk kegiatan perkemahan. Namun yang dimaksud home stay pada pengembangan wisata Danau Menjer adalah home stay yang dibangun di sekitar komplek danau dengan kondisi yang sangat representative hingga tidak terkesan membuat kotor maupun kumuh.,dimana jika ada yang ingin menggunakannya dapat diantar menggunakan perahu / getek menyeberangi danau atau melewati jalan lain yang dibuat dengan suatu kondisi khusus ditambah dengan sarana dan prasarana yang lengkap seperti Rumah Makan, MCK, dan lain sebagainya. Maksud dan tujuan pembuatan suasana ini agar para wisatawan dibawa memasuki aroma Danau Menjer yang mungkin sulit didapat di tempat wisata lain. Mereka dapat bersantai, dan memancing ikan di danau dengan sesuka hati.

Jika memungkinkan dapat juga dibuat hotel di sekitar lokasi. Selain hotel ini berfungsi sebagai tempat menginap wisatawan yang berkunjung ke Danau Menjer, bisa juga dipergunakan sebagai tempat transit para wisatawan yang akan berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Namun dari observasi lapangan banyak pihak dari masyarakat setempat yang kurang setuju dengan adanya tempat penginapan di sekitar Danau Menjer karena masalah pandangan negative yang melekat pada dunia perhotelan. Hal ini terjadi karena belum adanya pendekatan yang terstruktur dan kontinyu dari Pemkab dan juga karena kultur agamis masyarakat sekitar yang sangat kental. Apabila memang hotel atau losmen belum dapat didirikan di sekitar komplek danau maka dapat dicarikan tempat yang sekiranya minimal dari konflik dengan masyarakat sekitar.

3.5. Clive Climbing

Apabila kita menyusuri pinggiran Danau Menjer akan terlihat susunan tebing-tebing yang indah jika dipandang. Di jajaran tebing sebelah Barat menjulang tebing-tebing dengan tinggi sekitar 30 – 50 m dengan posisi tegak lurus. Cukup baik untuk dipergunakan sebagai wahana wisata dan olah raga Clive Climbing. Memang pada musim penghujan dataran dibawah tebing ini sedikit tergenang oleh air, namun jika pada masa air surut daerah ini telihat lapang dan luas.

3.6. Bumi Perkemahan

Walaupun di Danau Menjer sering dipergunakan sebagai tempat berkemah, namun sarana dan prasarana yang ada masih dirasa kurang. Hal ini mungkin terjadi karena secara resmi Danau Menjer belum dibuka sebagai Bumi Perkemahan sehingga banyak kegiatan para Pecinta Alam maupun Pramuka yang melewatkan Danau Menjer sebagai tujuan. Sebenarnya Danau Menjer sebagai Bumi Perkemahan adalah tepat karena wilayah ini mempunya pemandangan yang indah, banyak daerah lapang, lokasi yang memadai baik untuk out bound maupun kegiatan lapangan lain, serta relative tidak terlalu jauh dari Kota Kecamatan maupun Kabupaten.

3.7. Tempat Wisata Keluarga

Pembuatan Taman Hiburan Rakyat cocok juga dibangun di tempat wisata ini. Dengan adanya tempat bermain anak yang dekat dengan alam akan mendidik anak-anak kita untuk bisa menghargai alam sekitar. Jika memungkinkan bisa saja dikembangkan Kebun Binatang mini yang tentunya akan semakin menarik minat para wisatawan terutama domestic untuk berkunjung pada hari libur di Danau Menjer.

3.8. Promosi

Promosi disini pada tahap awal berorientasi mengenalkan Danau Menjer dan segala potensinya kepada pihak ke-3 yaitu para sponsor, investor ataupun pengembang agar tertarik mengembangkan pariwisata di Danau Menjer. Tentunya jika Pemerrintah Kabupaten Wonosobo mampu membangun sendiri hal itu tidak terlalu menjadi soal.

Setelah sarana dan prasarana lengkap maka masuk ke tahap promosi kedua yaitu promosi ke luar, baik domestic maupun luar negeri. Hal ini dapat dilakukan dengan promosi langsung seperti yang telah sering dilakukan Dinas Pariwisata dan dengan sering mengadakan acara di wilayah Danau Menjer baik acara yang berupa budaya, kesenian, diklat, seminar, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya dalam setiap pengembangan daerah wisata diperlukan kearifan dan kecermatan karena tujuan dari pembangunan tempat pariwisata adalah mengembangkan budaya dan potensi local/daerah, menghasilkan PAD, serta mensejahterakan masyarakat disekitar lokasi wisata. Oleh karena itu sosialisasi dan melibatkan warga sekitar dalam mengelola suatu tempat wisata akan menambah aura nilai dari tempat wisata tersebut. Masyarakat yang sadar akan berusaha agar wilayahnya aman dan nyaman dikunjungi para wisatawan hingga perekonomian daerah sekita bisa berputar.

3.9. Langkah Awal Perbaikan

Dalam tahap perbaikan , hal-hal yang perlu segera dilakukan secara tehnis adalah :

1. Perbaikan kondisi jalan dilokasi obyek wisata dan jalur alternatif Menjer Dieng

2. Pembangunan kembali talud dan pagar pembatas tepian danau

3. Rekondisi pintu gerbang masuk obyek wisata dengan konstruksi yang mencerminkan sebuah obyek wisata

4. Pembersihan sampah-sampah di lingkup perairan dan lingkungan sekitar danau

5. Penataan dan rekondisi taman yang ada di obyek wisata

6. Pembangunan kembali rumah-rumahan tempat istirahat di sekitar danau

7. Penataan ulang kondisi komplek dalam (pendopo,panggung pentas dll) yang benar-benar dapat menarik minat wisatawan dan perbaikan semua sarana bermain anak-anak yang rusak

8. Pembuatan papan nama Obyek Wisata Danau Menjer yang representatif

9. Pembuatan papan penunjuk jalan

10. Penambahan SDM pegawai tehnis pengelola

Setelah perbaikan standar selesai maka perlu suatu program yang baik untuk mempromosikan Obyek Wisata Danau Menjer antara lain :

1. Penyelenggaraan event baik dari seni atau apapun untuk meramaikan Danau Menjer;dalam hal ini pembukaan akses kepada pihak ke tiga atau event organizer di buka seluas-luasnya

2. Pengenalan jalur Danau Menjer - Dieng sebagai jalur alternatif menuju Dataran Tinggi Dieng sebelum pada saat nanti peresmian secara resmi jalur titik emas pariwisata Wonosobo dicananangkan

3. Keseriusan dalam mencari terobosan-terobosan dalam rangka memajukan kepariwisataan untuk benar-benar mensejahterakan rakyat salah satunya dengan pencarian dana pengembangan dan operasional. Jika tempat wisata sudah jadi dan maju tentunya secara otomatis biaya operasional harian dan perawatan akan mudah didapat.

PENATAAN TIGA TITIK EMAS OBYEK PARIWISATA

BY BIMO.S

Diperkenankan memakai wacana ini untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat. Wacana ini dapat dipakai di semua wilayah tidak hanya di Wonosobo dengan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing

1. Pendahuluan

Dataran Tinggi Dieng sebenarnya merupakan tempat wisata yang tidak akan puas jika hanya dinikmati dalam waktu beberapa jam saja. Luasnya wilayah dan banyaknya obyek baik yang masuk wilayah Kabupaten Wonosobo maupun Kabupaten Banjarnegara serta kondisi situasi alam yang tepat sebagai pencerahan pikiran tentunya tidak bisa dinikmati dengan tergesa-gesa. Kondisi cuaca yang cepat berubah dari cerah, berkabut,hingga hujan dimana masing-masing mempunyai fenomena alam yang fantastik sangatlah sayang untuk dilewatkan. Dengan kenyataan tersebut perlu difikirkan bersama agar tempat Sang Hyang Jagad Nata ini bisa benar-benar menjadi tempat surga bagi para wisatawan.

Penataan kembali lanscape Dieng sudah menjadi keharusan dengan membuat sebuah blue print yang terintregasi dari pintu gerbang sampai dengan obyek wisata andalan.Pembuatan grand planing tentunya kurang tepat jika dipecah-pecah dalam tiap zona karena bisa jadi apabila sudah selesai dalam penataan menjadi tidak sinkron antara zona satu dengan zona lain yang mengurangi harmonisasi penataan Dieng secara keseluruhan. Penentuan tema dalam penataan Dieng perlu dilakukan sehingga dalam setiap gerak bisa terstruktur dan dalam kesatuan tema.

2. Gerbang Baru

Gerbang menuju Dieng selama ini melewati beberapa jalur.Namun yang paling mudah adalah jalur yang melewati Kabupaten Wonosobo dengan jalur melewati Kecamatan Garung. Sebenarnya ada jalur yang lebih dekat dan menarik yaitu melewati jalan tembus melewati Danau Menjer yang tembus di Wilayah Kecamatan Kejajar (Dieng sebagian wilayahnya terletak di Kecamatan Kejajar). Jalur alternatif ini sebenarnya dapat dikembangkan sedemikian rupa untuk memperkuat poros jalur pariwisata Wonosobo yaitu Taman Wisata Kalianget, Danau Menjer, dan Dataran Tinggi Dieng. Ketiga titik obyek wisata ini terletak dalam satu jalur yang saat ini masih belum terlalu dikemukakan di kalangan luas. Apabila pembangunan kepariwisataan Kabupaten Wonosobo untuk jalur wisata ini benar menjadi salah satu fokus maka keniscayaan Kabupaten Wonosobo bisa menjadi “Bali Kecil” bukan hanya sekedar mimpi.

Perubahan jalur masuk Dieng ini akan menambah penghasilan Kabupaten Wonosobo dari Bidang Pariwisata karena dengan jalur ke dieng diarahkan ke Danau Menjer terlebih dahulu maka Obyek Wisata Danau Menjer akan hidup dan dapat efektif dan maksimal dalam menarik wisatawan untuk singgah. Dengan singgahnya wisatawan di Danau Menjer maka Pemkab mendapat pemasukan tiga titik yaitu tol, Danau Menjer, dan Dieng. Selain itu paket ini akan lebih menarik bagi wisatawan yang datang ke Kabupaten Wonosobo mengingat kepemilikan Pemkab terhadap obyek wisata Dieng lebih sedikit di banding Pemkab Banjarnegara.

3. Pembangunan Periwisata Solusi Yang Memakmurkan

Memang dalam proses pembangunan di bidang kepariwisataan tidaklah semudah bahasan-bahasan yang tertuang dalam konsep. Faktor lapangan dan pendanaan menjadi hal yang klasik tersendiri yang selalu dianggap menjadi salah satu momok yang menakutkan. Namun untuk saat ini perlu optimisme agar sebuah mimpi yang dapat memakmurkan masyarakat banyak benar-benar bisa tercapai.

Menyinggung masalah kemakmuran, pembangunan pariwisata sebenarnya merupakan pilihan yang tinggi value-nya dalam ikut mensejahterakan rakyat. Pembangunan pariwisata di jalur tiga titik emas (Kalianget,Danau Menjer,Dieng) jika berhasil tentunya akan membawa perubahan perekonomian yang signifikan kepada masyarakat Wonosobo. Selain dari retribusi juga hasil bumi dan kerajinan akan memperoleh pasar yang cukup menjanjikan. Jika Kabupaten Wonosobo bisa merebut pasar wisata baik lokal, domestik, dan luar negeri dengan penataan jalur Gerbang Dieng ini bisa diasumsikan kemakmuran berjalan mendekat.

4. Konsep Umum

Secara tehnis pengembangan Gerbang Dieng ini dimulai dari penataan wilayah Taman Wisata Kalianget untuk menjadi tempat wisata yang nyaman dengan perbaikan sarana prasarana serta penataan keprofesionalan pengelolaan sehingga benar bisa menjadi lentera kemakmuran bagi masyarakat di sekitar maupun masyarakat Wonosobo secara keseluruhan. Hal ini dilakukan pula di obyek wisata Danau Menjer dengan membuat planing yang baik salah satunya dengan mengoptimalisasi wilayah Danau Menjer sebagai bumi perkemahan maupun lokasi out bound. Selain itu dapat pula dibangun Wisma tamu maupun gedung diklat dimana keberadaannya bisa memberikan image baru di obyek Danau Menjer.

Dieng sebagai persinggahan berikutnya tentunya harus mampu memberikan kondisi surga para dewa yang sebenarnya. Keindahan Dieng tidak hanya ditentukan dengan panorama alam saja seperti aroma pegunungan, gua, maupun telaga. Keindahan dapat diciptakan untuk menambah kemolekan Dieng dengan penataan-penataan yang baik seperti penataan taman bunga,fasilitas pendukung, sampai dengan pembangunan tempat inap seperti hotel yang melibatkan pihak ke tiga maupun pihak-pihak lain yang peduli.Sinkronisasi antara obyek wisata Dieng Plateu Theater dengan komplek obyek wisata alam Telaga Warna dibawahnya perlu ditingkatkan lagi sehingga kedua obyek ini terlihat sebagai kesatuan yang terintegrasi tidak terlihat sendiri-sendiri.

Dalam hal penataan Dieng besarnya dana yang diberikan sebenarnya bukan merupakan pokok. Yang penting adalah menerapkan dana yang ada untuk membangun sesuatu yang tepat dan maksimal. Dana seadanya jika diterapkan dengan tepat maka akan menambah cantik namun dana banyak namun penerapannya tidak tepat dan cenderung ke pemborosan akan menambah masalah

Selain penataan pada obyek wisata,khusus Dataran Tinggi Dieng perlu adanya penanganan khusus terutama dalam hal penghijauan dan membangun kesadaran semua pihak untuk menjaga kelestarian alam di wilayah Dieng. Menjaga kahyangan para dewa ini tidak hanya berbicara untuk sebuah keindahan tempat wisata saja namun justru berbicara tentang kelangsungan hidup manusia terutama di pegunungan Dieng dan daerah di sekitarnya pada umumnya. Hutan yang gundul terbukti telah menimbulkan banyak bencana seperti banjir dan tanah longsor.Belum lagi erosi yang luar biasa mengakibatkan sungai-sungai keruh dan mengakibatkan pendangkalan baik di telaga-telaga maupun di Waduk Mrican Banjarnegara yang mengancam turbin pembangkit listrik disana.

5. Penutup

Gerbang Dieng dengan jalur tiga titik emasnya merupakan sebuah wacana besar yang tidak akan bisa tercapai tanpa kesadaran dan usaha keras untuk mewujudkannya baik dari eksekutif,legislatif maupun dari masyarakat itu sendiri yang nantinya menjadi focus interest dari semua program peningkatan perekonomian dan kesejahteraan. Yang dibutuhkan pada awal adalah niat baik untuk bersama-sama membangun Kabupaten Wonosobo ini untuk mencapai suatu kondisi yang indah dan ideal dimana setiap orang yang berada di wilayahnya merasa tercukupi dan terayomi.

KONSEP WISATA RITUAL

BY BIMO.S

Diperkenankan memakai wacana ini untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat. Wacana ini dapat dipakai di semua wilayah tidak hanya di Wonosobo dengan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing

Konsep Wisata Ritual sebenarnya include dengan konsep penataan Pariwisata Wonosobo secara keseluruhan. Obyek wisata ritual yang biasanya berupa peninggalan bersejarah masa lalu yang berhubungan dengan nilai keagamaan dan istiadat setempat berupa petilasan, bangunan, maupun makam, merupakan aset wisata yang jika digarap dengan tepat akan menambah dan menyebarkan aura pariwisata ke seluruh pelosok wilayah Kabupaten Wonosobo.

1. Sosialisasi intensif Maksud dan Tujuan

Dalam beberapa waktu ini Pemkab Wonosobo sudah banyak melakukan pembangunan dan pemugaran obyek-obyek wisata ritual di beberapa wilayah. Banyak diantaranya adalah pemugaran makam. Dalam hal ini banyak yang belum begitu paham tentang tujuan dari pembangunan wisata ritual ini sehingga ada yang berpendapat bahwa hal ini merupakan pemborosan bahkan ada yang berasumsi negatif dikaitkan dengan kaidah agama yang diyakininya. Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi intensif bahwa maksud tujuan pembangunan tempat wisata ritual ini selain bertujuan untuk menghormati para leluhur juga mensejahterakan masyarakat disekitar obyek dengan mengambil manfaat ekonomi dari peziarah yang datang. Sebagai contoh ,apabila ada banyak pesiarah yang datang maka akan ada pemasukan dari parkir yang bisa digunakan sebagai kas desa, juga pengelolaan kamar kecil dan lain sebagainya. Secara lebih personal maka keuntungan ekonomi dapat diambil oleh warga sekitar dengan membuat warung kecil makanan minuman, menjual bunga tabur, sampai cinderamata. Konsep ini memang tidak dapat serta merta akan memajukan perekonomian dengan mendadak namun dengan proses yang diikuti dengan langkah-langkah yang terpadu antara Pemkab dengan masyarakat sekitar. Bisa dicontohkan keberhasilan wisata ritual di wilayah Demak dan Pantai Utara.

2. Strategi Promosi

Dalam setiap pengembangan pariwisata promosi menjadi salah satu penentu. Untuk memperkenalkan tempat wisata ritual memang memerlukan kiat khusus yang sedikit berbeda dengan obyek wisata biasa dimana wisatawan atau peziarah yang datang tidak menfokuskan kepada keindahan alam atau keunggulan sarana wisata tertentu namun fokus kepada obyek wisata ritual itu sendiri.

Ada beberapa faktor yang menarik orang untuk datang ketempat obyek wisata ritual antara lain :

1. Ziarah dan mendoakan yang dimakamkan karena dianggap yang dimakamkan disana adalah orang suci (niat tersembunyi dari peziarah tidak termaktub dalam konteks masalah sudut pandang kepariwisataan)

2. Tertarik akan mitos dan legenda obyek wisata ritual tersebut

3. Tertarik akan keunikan tertentu yang ada di obyek wisata ritual tersebut

4. Tertarik untuk mendapatkan berkah yang konon ada ditempat itu,dll

Dalam melakukan promosi obyek wisata ritual ini jangan sampai terjebak oleh masalah-masalah yang sekiranya memasuki area keyakinan asasi dari para wisatawan dan juga masyarakat setempat. Konteks kepariwisataan adalah bagaimana menarik sebanyak mungkin wisatawan dengan model promosi yang beragam namun tidak menimbulkan masalah dengan warga sekitar khususnya atau warga masyarakat pada umumnya.

Adapun wacana langkah promosi obyek wisata ritual adalah :

- Pemetaan obyek wisata ritual di Kabupaten Wonosobo lengkap dengan foto,data lengkap, dan legenda / mitosnya

- Mempromosikan seluruh obyek wisata ritual yang ada dengan membuat brosur dan membuat baliho besar yang diletakkan di pintu-pintu masuk yang strategis. Baliho ini dibuat sejelas mungkin sehingga setiap orang yang melewati wilayah Wonosobo dapat mengetahuinya.Peta Wisata ini dapat langsung dikaitkan dengan tempat wisata lain di Wilayah Wonosobo termasuk tiga titik emas pariwisata Wonosobo yang akan dikembangkan maksimal

- Menjual mitos obyek wisata ritual setempat dengan menyebarluaskan mitos dengan sistem getok tular (dari orang ke orang) dengan melibatkan masyarakat setempat maupun instansi terkait

- Promosi dalam segala bentuk tidak hanya fokus di lokal saja namun terus melakukan penetrasi ke daerah lain

- Penetrasi promosi ke daerah lain dapat dilakukan dengan bantuan biro pariwisata yang ada maupun bantuan dari pihak-pihak lain seperti ikatan keluarga Wonosobo,ikatan mahasiswa Wonosobo, dan lain sebagainya.

- Penggunaan teknologi informasi juga sudah seharusnya dimaksimalkan dengan up date http//www.wonosobo.go.id sebagai web site promosi Kepariwisataan Kabupaten Wonosobo. Tampilan web site terutama di bidang kepariwisataan ditampilkan dalam bilangual (dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia) dengan tingkat informatif yang tinggi.

3. Melihat Adat

Masyarakat Kabupaten Wonosobo masih sangat kental dalam adat istiadat dan penghormatan terhadap para leluhur.Dengan kondisi ini perlu kehati-hatian dalam menyebut makam para leluhur sebagai obyek. Budaya menghormati para pendahulu merupakan suatu karakteristik masyarakat Wonosobo.Para Kyai maupun pengageng dimasa lalu yang dianggap berjasa terhadap agama dan bangsa dan dianggap bisa membawa berkah sangat dipundi sehingga ketidakhormatan terhadap makam leluhur bisa membawa masalah yang besar.

Penghormatan terhadap adat budaya setempat harus dilakukan dengan maksimal dengan memberikan statemen yang sekiranya dapat memberikan kejelasan, kebanggaan, dan ketenangan sehingga aspek pembangunan wisata ritual bisa dilakukan.Dalam hal ini wacana profit yaitu akan meningkatnya perekonomian masyarakat sekitar dengan pembangunan wisata ritual dilakukan step by step (langkah demi langkah) dengan memetakan perkiraan warga yang pro dan kontra terlebih dahulu terhadap pembangunan obyek wisata ritual. Setelah itu dilakukan pendekatan personal sehingga meminimalisir friksi. Namun hal-hal diatas dilakukan jika masyarakat setempat masih bersikap tradisional, tertutup. atau bahkan cenderung kolot.Apabila masyarakat sekitar sudah modern dan bersikap terbuka maka biasanya tidak akan ada masalah.

Pendekatan secara kultural sebenarnya tidak terlalu sulit karena masyarakat Wonosobo basic-nya adalah masyarakat yang ramah.Jika dalam pendekatan dengan dasar saling menghormati maka masyarakat akan welcome terhadap hal-hal yang baru.

4. Fokus Program

Untuk membentuk Kabupaten Wonosobo sebagai salah satu tempat wisata ziarah sangat diperlukan keseriusan dengan menempatkan Pariwisata sebagai fokus interest selain sektor Pendidikan dan Kesehatan. Memilih bidang kepariwisataan ini tentunya tidak berdasarkan kemegahan belaka namun lebih pada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat terutama warga miskin di wilayah-wilayah dengan mengusahakan keberhasilan promosi wisata ritual di daerah masing-masing. Semakin banyak peziarah yang datang maka peluang membuka usaha semakin besar baik boga maupun kerajinan.Konsep pemberdayaan masyarakat di wilayah yang terdapat tempat wisata ritual merupakan alternatif yang baik. Dengan adanya tempat wisata yang ramai tentunya semua barang produksi masyarakat dari pertanian sampai dengan industri akan menemui pasar sehingga dalam pelatihan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk apapun akan berhasil maksimal karena adanya pasar.

Tujuan utama dari pembangunan wisata ritual adalah mensejahterakan rakyat. Dengan tujuan ini maka dalam setiap langkah gerak Pemkab harus mengacu kepada tujuan tersebut. Tidak fokus pada bidang ini maka hanya akan terjadi pemborosan dan usaha mensejahterakan masyarakat akan hanya menjadi euphoria belaka.

KONSEP PEMBANGUNAN OBYEK WISATA KALIANGET

BY BIMO.S

Diperkenankan memakai wacana ini untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat. Wacana ini dapat dipakai di semua wilayah tidak hanya di Obyek Wisata Kalianget dengan disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing


1.Pendahuluan

Obyek Wisata Kalianget yang terletak di Kelurahan Kalianget Kecamatan Wonosobo sebenarnya telah lama berdiri dan merupakan salah satu obyek wisata tetap mempunyai penggemar sampai saat ini. Kondisi secara keseluruhan bisa dikatakan lebih baik dari beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Wonosobo. Namun dari segi keberhasilan sebuah indusri pariwisata nampaknya masih cukup jauh dari harapan

1.1. Faktor Penghambat

Dalam usaha untuk tampil sebagai wilayah yang mempunyai nilai tinggi, Kalianget terlihat seperti tertatih dan terhinggapi sesi pesimistis. Dalam setiap rencana pembangunan pariwisata di daerah tersebut selalu terkandaskan oleh sebuah stigma bahwa Kalianget adalah daerah yang tidak aman. Stigma ini seperti telah tertanam dalam pada setiap orang sehingga baik dari dalam Wonosobo apalagi luar daerah seperti "alergi" untuk berinvest disana.

Hal tersebut sebenarnya adalah situasi riil dan harus diterima dengan lapang dada sebagai wujud koreksi tanpa harus ditutupi. Namun yang penting adalah bagaimana usaha yang kontinyu baik dalam membina masyarakat di Kalianget untuk lebih sadar wisata, pengkondisian keamanan yang mantap,konsep pembangunan yang jelas, perlindungan kepada investor, yang kemudian di follow up dengan bekerja keras mempromosikan Kalianget tidak hanya sebagai obyek wisata saja tetapi juga sebagai daerah yang aman untuk dikunjungi dan berinvest. Stigma ketidakamanan Kalianget harus dipatahkan dengan pengkondisian keamanan yang konkret dan promosi yang tepat

1.2. Studi Perilaku Masyarakat Kalianget

Ketidakamanan Kalianget semestinya dikaji dari sejarah masa lalu sehingga akan diketahui beberapa korelasi yang menghubungkan tingkat aman dengan beberapa faktor lain. Dahulu Kalianget dikenal sebagai markas preman yang menjadi biang keributan di seantero sudut Wonosobo yang suka tawuran,memeras.mengkompas, dan lain sebagainya sehingga ditakuti oleh masyarakat. Kondisi ketakutan masyarakat ini dipandang sebagai suatu penghormatan dan superioritas bagi beberapa kalangan di Kalianget untuk me-legitimate mereka adalah penguasa daerah hitam hingga pada era 80-an sampai memasuki 90-an akhir kata "nyong wong kalianget" adalah kata yang gampang untuk keluar dari suatu masalah.

Pada era itu juga daerah Kalianget terkenal dengan kawasan yang ramai. Selain kolam pemandian Kaliangat terdapat juga sebuah pabrik besar yaitu PT Dieng Djaya dimana keberadaan perusahaan ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat Kalianget. Kebesaran PT Dieng Djaya ternyata juga berpengaruh kepada besarnya Premanisme di wilayah itu dimana perputaran uang begitu cepat sehingga upeti dari karyawan PT Dieng Djaya mengalir ditambah hadiah-hadiah dari PT Dieng Djaya itu sendiri agar lingkungan pabrik tidak diganggu. Dalam kondisi yang mudah ini Kalianget tidak berpikir tentang kenyamanan maupun nama baik atas nama pembangunan pariwisata.

Pada era 90-an akhir PT Dieng Djaya mulai limbung dan kemudia ambruk total diikuti pula dengan badai krismon yang meluluhlantakkan perekonomian nasional. Kondisi ini jelas berimbas keras terhadap kondisi perekonomian Kalianget. Home indutri, bisnis kost,warung,dan lain-lain ikut pula ambruk demikian juga dengan lahan premanisme yang pada waktu itu tumbuh subur di wilayah itu. Uang yang semula mudah didapat menjadi sangat sulit. Warga Kalianget mulai intens mencari lahan baru dengan menjadi petani,kontraktor,konveksi, dan lain sebagainya.Dari kondisi inilah kesadaran tentang pentingnya merubah diri menjadi lebih baik untuk menggalakkan kembali sektor pariwisata mulai muncul.

Masyarakat membutuhkan Obyek Wisata Kalianget, hal ini menjadi sangat penting dan sensitif dibicarakan pada akhir-akhir ini. Keinginan masyarakat agar Kalianget dapat ramai pengunjung mulai diluahkan. Walaupun masih banyak yang berbeda visi namun sebenarnya mempunyai keinginan yang sama yaitu kalau Obyek Wisata Kalianget maju maka akan banyak tenaga kerja yang dibutuhkan, akan banyak hasil kerajinan yang terjual, akan banyak warung yang laris,intinya perekonomian masyarakat akan meningkat lebih baik.

1.3. Wacana Solusi

Dengan aura kepariwisataan yang mulai terlihat di mayoritas warga Kalianget maka pengembangan obyek wisata Kalianget optimis untuk dilaksanakan. Untuk terus menjaga kondisi kondusif ini maka perlu pendekatan yang terus menerus dan intensif kepada semua elemen di sana untuk terus terjaga semangatnya dalam mendukung usaha pengembangan obyek wisata Kalianget. Pendekatan yang diperlukan adalah menggunakan pendekatan informal yaitu person to person atau juga pendekatan kepada semua elemen. Dengan kondisi ini maka diusahakan bahwa kesadaran dan semangat untuk maju terhasil dari warga sendiri dengan diarahkan sedemikian rupa hingga memaksimalkan persamaan visi dan meminimalisir friksi. Bagaimanapun juga dalam pembangunan wilayah jamak kalau ada pro dan kontra , akan tetapi khusus obyek wisata Kalianget apabila benar masyarakat sudah mengerti jika pariwisata maju maka perekonomian akan maju pula tentunya sektor keamanan yang selama ini menjadi stigma negatif akan hilang dengan sendirinya.

Pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat harus melihat budaya dan perilaku setempat (konsep behaviour approach) dimana kapasitas dari agen pariwisata pemkab untuk memberikan pesan positif tentang kepariwisataan dilakukan dengan cara adat masyarakat bukan berdasarkan legal formal aturan belaka. Masyarakat di lingkup Kabupaten Wonosobo sangat suka di sanak (dihormati sebagai teman atau saudara) akan tetapi tidak terlalu suka didikte dengan situasional seperti birokrasi. Keguyuban masyarakat inilah yang nantinya akan menjadi salah satu faktor utama yang menjadi kesuksesan pembangunan Kalianget.

Untuk selanjutnya perlu sebuah gerakan yang bisa benar-benar membuat semua orang percaya bahwa daerah Kalianget aman untuk dikunjungi dan aman untuk investasi. Hal ini memang tidak mudah jika tidak ada kerjasama yang rapi antar semua elemen. Beberapa contoh gerakan yang dapat dilakukan antara lain :

- Mendorong masyarakat setempat dan elemen yang ada disana untuk mendeklarasikan Kalianget sebagai daerah wisata yang ditandatangani oleh semua elemen yang ada disana tanpa kecuali. Konsep ini dijalankan tidak boleh top down tetapi terus didekati agar masyarakat dapat memunculkan ide ini sendiri yang kemudian nilai dan tanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dideklarasikan itu menjadi sangat tinggi

- Pejabat publik seperti Bupati atau Wakil Bupati dapat secara informal mengunjungi daerah kalianget secara terjadwal namun tetap dengan kondisi non birokrasi.Hal ini dengan maksud agar masyarakat disana merasa di sanak sehingga ada ikatan rasa penghormatan dan rasa malu jika wilayahnya belum juga dapat terkondisikan sebagai daerah aman wisata

- Mengajak pihak pers dan kalangan LSM atau NGO yang non profit dalam usaha menumbuhkan kesadaran dan semangat kepada masyarat. Fungsi pers menjadi penting untuk memberikan nuansa pemberitaan positif tentang kalianget sehingga stigma ketidakamanan Kalianget menjadi pupus.

- Melibatkan pihak-pihak yang ada di kalianget dalam usaha membuat konsep baku pembangunan obyek wisata Kalianget agar masyarakat merasa ikut memiliki obyek wisata tersebut

- Memberikan kepastian kepada warga sekitar tentang relevansi antara kemajuan pariwisata dengan majunya perekonomian setempat. Hal ini dalam langkah awal untuk menyediakan lahan parkir, pujasera,tenaga kerja dan lain sebagainya untuk sebagian besar kemanfaatannya diberikan kepada masyarakat sekitar

- Apabila diperlukan, markas aparat keamanan seperti Koramil atau yang lain dipindahkan disekitar Kalianget untuk membina keamanan disana. Namun seyogyanya hal ini dilakukan jika memang rekondisi Kalianget mengalami kebuntuan serius.

Membangun sebuah industri pariwisata memang memerlukan strategi,pemikiran, dan dana. Oleh karena itu memerlukan proses yang cukup dan keseriusan. Aura wisata Pulau Bali sedemikian besar salah satunya karena masyarakatnya benar-benar menyadari bahwa pariwisata merupakan denyut nadi perekonomian Bali sehingga apabila pariwisata ambruk maka perekonomianpun runtuh. Aura ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh Wilayah Kalianget pada khususnya dan Wonosobo pada umumnya untuk dapat membawa Kabupaten Wonosobo menjadi Kota Wisata.

2. Konsep Pengembangan

Konsep pengembangan Obyek Wisata Kalianget sebenarnya bisa diambil dari semua pihak yang kemudian diramu oleh pihak-pihak yang berwenang untukmenjadi master plan baku. Master Plan ini kemudian dapat dipergunakan sebagai acuan pembangunan dan acuan proposal. Proposal Pembangunan ini bisa diserahkan kepada para investor ataupun Pemerintah Pusat dan Propinsi. APBD Kabupaten sepertinya tidak akan mampu apabila dialokasikan membangun secara penuh Obyek Wisata Kalianget. Namun sedikit banyak harus tetap ada dana yang diperuntukkan untuk penataan awal dan perbaikan-perbaikan di obyek wisata tersebut.

Rencana pemindahan stadion sepak bola dari Kalianget akan memberikan banyak space atau ruang untuk dipergunakan wahana lain yang lebih memiliki daya tarik dan menghasilkan. Namun dalam pembangunan nanti lahan yang sudah hijau dengan pepohonan jangan sampai ditebang atau diratakan karena pepohonan di Obyek Wisata Kalianget merupakan aset penting untuk keasrian tempat wisata

2.1. Sport Centre

- Tennis

Lapangan tenis sudah tersedia di obyek wisata Kalianget dengan kondisi bisnis yang menjanjikan. Saat ini tennis court Kalianget ramai dukunjungi dan dipakai oleh masyarakat baik instasi pemerintah maupun umum. Pemasukan diperkirakan cukup baik. Namun tampak sudah mulai perlu perbaikan dan pemodernan sarana agar pemakai benar-benar betah dan nyaman.Yang perlu diperhatikan antara lain :

- area lapangan tenis seyogyanya berpola satu lapangan sehingga privasi terjaga serta lari bola tidak terlalu jauh. Saat ini masih terdapat lapangan yang berjejer tanpa pembatas

- memberikan bangunan tempat istirahat lengkap dengan kamar ganti dan kamar mandi yang representatif.

- apabila menghendaki lapangan tenis ini bisa dipergunakan untuk event nasional maupun internasional tentunya perlu dana yang cukup tinggi untuk membuat tribune.

- Mini Golf

Mini golf memang cabang olah raga yang dikhususkan bagi kalangan menengah keatas. Mini Golf mempunyai banyak type dan tahapan seperti lapangan untuk practise memukul, mini golf untuk game(lebih cenderung untuk bermain anak dan remaja walaupun dewasa tetap dapat memakainya), dan mini golf lapangan ( one hole sampai maksimal three hole)

- Gokart

Lintasan gokart dibuat sedemikian rupa sehingga safety terjamin. Biasanya wahana ini digemari oleh remaja atau ABG. Dengan tiket yang tidak terlalu tinggi, wahana ini dapat diandalkan untuk pemasukan

- Mini Area Shoft Gun

Shoft Gun merupakan olah raga yang melibatkan fisik dan strategi secara bersamaan. Wahana ini merupakan simulasi dari medan perang atau medan operasi militer. Senjata yang digunakan mirip aslinya dengan peluru bulat kecil. Permainan ini membuat pemain lepas dalam emosi dan cocok untuk pembinaan kerja sama team karena dalam permainan ini nantinya akan ada dua tim yang berhadap-hadapan. Permainan ini saat ini masih booming di kota-kota besar.

- Futsal

Media untuk futsal akan sangat menarik dikarenakan olah raga ini juga sedang booming namun di Wonosobo belum ada lapangan yang representatif. Penggemar bola dan kompetisi domestik di Kabupaten Wonosobo sangat tinggi sehingga pemunculan wahana ini bisa menjadi magnet bagi obyek wisata Kalianget.

- Basket

Lapangan Basket merupakan wahana standar dalam setiap gelanggang olah raga. Dengan adanya wahana basket ini diharapkan akan menarik pelajar-pelajar dan klub-klub basket untuk berhome base disana.

- Fitness Centre

Fitnes centre digabung dengan senam aerobic dan dilengkapi dengan sauna akan menambah citra Kalianget sebagai pusat olah raga. Pengkondisian dan promosi yang baik diharapkan bisa untuk menambah income pendapatan obyek Wisata Kalianget

2.2. Water Boom dan Aquarium Raksasa

Wahana Water Boom dan aquarium raksasa saat ini merupakan wahana yang diminati untuk wisata keluarga. Obyek wisata keluarga dimanapun mengedepankan kenyamanan wahana wisata air ini untuk memanjakan dan menarik wisatawan untuk hadir. Penataan waterboom yang modern dan aquarium raksasa yang representatif akan banyak memberikan kontribusi bagi majunya rana wisata Kalianget

2.3. Pemandian

Pemandian Air Hangat Kalianget sudah terkenal sejak dulu. Konon semua penyakit kulit dapat disembuhkan jikan mandi disana karena kadar belerangnya yang tinggi. Untuk menambah daya tarik pemandian ini maka konsep pemandian air hangat di Jepang bisa diambil seperti kolam alam pemandian air hangat dengan kadar belerang yang diolah agar tidak mengeluarkan bau yang menyengat

2.4. Pujasera

Pujasera merupakan hal yang penting untuk dibangun di sebuah tempat wisata. Bentuk pujasera sendiri dapat berupa rumah makan atau warung berbentuk kafe yang ditata dengan indah dan rapi.

2.5. Taman Bermain dan Taman Keluarga

Taman bermain anak dan taman keluarga dapat dijadikan satu paket wahana wisata yang benar-benar menarik untuk dikunjungi. Kondisi saat ini sebenarnya sudah cukup memadai hanya saja mainan anak yang ada belum lengkap dan banyak yang rusak. Sentuhan sedikit saja sudah bisa membuat wahana ini lebih hidup ditambah dengan melengkapi kembali hewan-hewan yang dulu hilang.