Tampilkan postingan dengan label Wacana Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana Pertanian. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2009

STRATEGI EKONOMI PERTANIAN DAN PEMASARAN , KAMPANYE PRODUK DAERAH

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Strategi Ekonomi Petani

A. Kerja Sama Antar Kelompok Tani

Kelompok tani merupakan perkumpulan para petani di pedesaan yang salah satu tujuannya untuk mempermudah koordinasi, penyuluhan dan pendampingan yang dilakukan oleh Penyuluh Lapangan Pertanian. Faktor beban dalam agrobisnis dalam hal ini adalah mencakup masalah pendanaan dan sumber daya manusia. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk, pestidida, obat-obatan pertanian, dan bibit para petani yang tegabung dalam kelompok tani harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu perlu adanya perencanaan pola tanam per wilayah yang mengatur masa tanam yang termaktub dalam penentuan sentra pertanian. Dengan adanya pengaturan masa tanam maka kelompok tani yang berada dalam sentra melakukan kerja sama dalam bersama-sama membeli pupuk, pestisida, obat-obatan , maupun bibit. Dengan demikian untuk satu pembelanjaan dapat langsung memesan barang kebutuhan pertanian dalam jumlah besar sehingga didapat harga yang jauh lebih murah dibanding dengan mengecer. Dengan kondisi ini diharapkan biaya yang dikeluarkan oleh para petani menjadi lebih ringan yang nantinya berpengaruh kepada nilai keuntungan .

Kerja sama antar kelompok tani bisa berkembang ke bidang lain seperti pemenuhan alat-alat pertanian seperti traktor, rice mill, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya kelompok tani yang bergabung maka bisa diadakan iuran atau pengajuan kredit atas nama paguyuban kelompok tani atau koperasi untuk membeli alat-alat tersebut yang nantinya dipergunakan bersama-sama secara bergantian atau apabila berupa alat produksi bisa diserahkan kepada kepengurusan bersama. Lembaga yang tepat untuk pengelolaan ini adalah pembentukan koperasi.

Dengan adanya kerja sama antar kelompok tani yang kuat dan luas bisa diusahakan pembuatan sentra agro industri dimana koperasi yang menjadi pilihan pemersatu menjadi leading sectornya. Hasil agro dari para petani yang sudah disentrakan seperti misalnya sentra hasil pertanian tanaman salak dikoordinasikan dengan koperasi yang dibentuk bersama itu untuk dijual bersama-sama dengan harga standar untuk menjaga kestabilan harga sehingga tidak ada lagi istilah ”ngancurke rego”. Selain itu hasil salak yang akan diproses lebih lanjut disalurkan ke koperasi yang telah mempunyai alat pemrosesan salak untuk dibuat kripik salak yang kemudian siap dipasarkan. Pada dasarnya konsep ini tidak menggiring para petani untuk dimonopoli oleh paguyubannya sendiri dengan koperasinya namun bagaimana secara bijaksana koperasi tersebut bisa benar-benar mensejahterakan anggotanya. Jika ada petani yang menjual sendiri hasil pertaniannya tidak melalui koperasi tentunya hal itu tidak bisa dipaksakan. Namun apabila penjualan tidak melewati paguyuban dengan koperasinya tentunya harus diadakan pendekatan agar tidak saling menghancurkan. Namun pada prinsipnya jika koperasi benar-benar berdaya guna tentunya semua petani maupun kelompok tani akan tetap solid untuk mencapai kesejahteraan bersama.

B. Kerja Sama Antar Desa

Kerja sama antar desa menjadi sangat penting dimana aroma paternalistik dan primodialis masih cukup kuat dikalangan masyarakat Kabupaten Wonosobo. Para perangkat desa dibantu oleh Badan Permusyawaratan Desa dan para tokoh masyarakat harus mulai memberikan dorongan kepada para petani dan kolompok tani di wilayahnya untuk bisa bersama-sama bekerja sama dengan kelompok tani desa lain sehingga dalam penentuan harga bisa standar dan kuat dalam bargaining dengan pasar. Pembentukan koperasi bisa dalam setiap desa berdiri sendiri namun juga sangat baik jika beberapa desa satu koperasi atau setidaknya ada kerjasama rekat antara koperasi suatu desa dengan desa yang lain.

Desa dalam hal ini harus juga mulai merubah pola pemakaian anggaran desa yang dewasa ini kebanyakan mengacu kepada pembangunan fisik dan sedikit yang mengacu kepada pembangunan ekonomi. Semestinya desa mulai merencanakan anggaran dengan melihat faktor-faktor perekonomian yang ada disekitarnya. Pendanaan pembentukan koperasi mungkin lengkap dengan alat-alat agro industri dan modal awalnya mulai harus diperjuangkan dan direncanakan dengan matang. Tanpa campur tangan pihak-pihak yang berkompenten di pedesaan pembangunan perkonomian khususnya di bidang usaha pertanian akan mengalami kendala besar.

2. Strategi Pemasaran

Pola pemasaran hasil pertanian selama ini bisa dikatakan masih menggunakan pola tradisional dimana antara produsen dan buyer mempergunakan sistem individual belum merupakan suatu sistem yang komprehensif untuk membentuk suatu jangkauan pasar yang luas dan berjangka panjang. Perubahan pasar tradisional menuju pola pasar modern menjadi suatu keharusan yang harus disegerakan karena pada saat ini ere pasar bebas sudah merambah yang tentunya mengakibatkan persaingan pasar semakin berat dan ketat. Oleh karena itu perlu dimunculkan wacana-wacan baru dalam bidang pemasaran produk-produk pertanian agar kesejahteraan petani tidak semakin terpuruk namun bisa meningkat dengan signifikan.

A. Pasar Domestik

Pasar tradisional biasanya mempergunakan pemasaran klasik yaitu hasil pertanian dibawa ke pasar rakyat untuk dipasarkan. Dalam hal inii tentunya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun pada kenyataannya di lapangan hasil bumi dari para petani Wonosobo banyak yang tidak maksimal dalam penjualan dikarenakan kalah bersaing dengan produk pertanian dari daerah lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain adalah kurangnya pengetahuan petani dalam mempergunakan teknologi pertanian, sebagai contoh pemakaian pestisida dan obat-obat pertanian yang overload hanya untuk mencari hasil pertanian yang banyak dan besar sehingga dipasaran kurang laku dikarenakan rasa meupun mutu menadji berubah. Selain itu sistem pasar tradisional dimana petani menjual produknya sendiri mengakibatkan harga jual mudah dipermainkan oleh para tengkulak sehingga harga menjadi merosot. Ketika harga mulai merosot maka banyak petani lain yang menjual produknya ke luar kota yang sebenarnya memerlukan biaya besar.

Oleh karena itu kerjasama antar petani dengan kelompok tani-nya sangat diperlukan dan penting disosialisasikan sehingga harga tawar produk pertanian dapat lebih stabil. Selain itu perlu suatu usaha agar produk pertanian Kabupaten Wonosobo terutama hasil tanaman pangan , buah-buahan dan sayuran dapat terserap semaksimal mungkin di daerah sendiri sehingga apabila ada produk pertanian yang keluar daerah merupakan hasil surplus pertanian atau untuk memenuhi target pasar khusus.

A.1. Kampanye Program Bangga Memakai Produk sendiri

Untuk mengangkat pertanian Kabupaten Wonosobo, selain secara tehnis pertanian yang harus diperbaiki, perlu adanya suatu strategi yang baik guna meningkatkan pamor produk pertanian petani. Usaha untuk memaksimalkan penyerapan produk pertanian di daerah sendiri bisa dilakukan dengan memulai kampanye agar masyarakat Wonosobo ter brain storming untuk memakai hasil produk pertanian sendiri.

Kampanye ini tentunya harus didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah sebagai leader dalam segenap kebijakan. Penunjukkan leading sector perlu diadakan sehingga program ini dapat dipertanggungjawabkan. Adapun proses kampanye ini dimulai dengan pengidetifikasian produk-produk pertanian Kabupaten Wonosobo baik yang berupa bahan mentah maupun hasil dari agro industri. Setelah itu sosialisasi program dalam jajaran birokrasi dan juga legislatif. Setelah semua selesai baru dibuat formula sosialisasi yang dipergunakan untuk konsumsi umum.

Sosialisasi untuk masyarakat sebenarnya bisa memakai cara standar seperti penyuluhan, promosi di radio, media cetak dan lain sebagainya. Namun yang penting adalah keseriusan dan terus berkesinambungan. Brain storming tidak bisa dilakukan dengan seketika apalagi dalam era sekarang ini dimana masyarakat tidak bisa serta merta dapat diperintah.

Dalam pencapaian kampanye memakai produk sendiri ini sebenarnya secara tidak langsung mempertahankan aura agraris Kabupaten Wonosobo sehingga bidang pertanian tetap menjadi bidang primadona baik untuk kesejahteraan rakyat maupun untuk pengendalian jumlah pengangguran. Dampak dari keberhasilan program ini tentunya diharapkan kesejahteraan petani semakin meningkat dan juga akan banyak bermunculan agro industri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun dampak lain yang perlu menjadi perhatian adalah akan terjadi suatu ”monopoli semu” dimana produk pertanian dari daerah lain sulit masuk ke Kabupaten Wonosobo karena sudah tertutup oleh hasil produk pertanian domestik sehingga perlu kedewasaan untuk tidak mempersulit dengan suatu tindakan atau kebijakan tehnis yang mempersulit masuknya produk luar. Penyerahan pada mekanisme pasar menjadi solusi yang tepat.

A.2. Pelabelan Identitas Produk

Dalam usaha pencitraan produk Kabupaten Wonosobo maka perlu diadakan pelabelan baik melalui packing-nya maupun ”paraban” (julukan produk tertentu) agar mudah dikenal oleh masyarakat. Sebagai contoh dalam bisnis beras, hasil beras asli Wonosobo bisa diberi bungkus plastik dengan nama beras Wonosobo walupun jenis-jenisnya berbeda (ditambah keterangan seperti barito, C4,dll), sama juga dengan pelabelan pada produk-produk agro industri seperi carica, keripik salak, dan lain sebagainya. Selain itu bisa juga pelabelan ini hanya pada pengenalan produk di pasar seperti Kentang Wonosobo, Kobis Wonosobo, dan lain sebagainya. Hal kecil apabila disampaikan berulang-ulang akan menjadi jamak hingga brain storming bisa terjadi.

”Paraban” (julukan produk tertentu) juga perlu untuk membedakan produk serupa namun berbeda jenis maupun asal penanaman dan lebih mempermudah dalan hal promosi. Sebagai contoh seperti Salak Pondok, Salak Bali, Durian Montong, Cabe Dieng, dan masih banyak lagi.

B. Pasar Luar Daerah

Pemenuhan pasar domestik tidak bisa menjadi suatu alasan untuk tidak memperluas pasar. Pasar luar daerah merupakan wahana yang baik untuk mendapatkan keuntungan. Di kota-kota besar dan diluar Jawa misalanya masih banyak kekurangan sayur-sayuran sedangkan Kabupaten Wonosobo kaya akan hasil sayur mayur. Data base tentang kebutuhan produk pertanian yang dibutuhkan oleh daerah lain semestinya mulai dikumpulkan untuk memberikan gambaran dan sasaran produk apa yang sekiranya laku di daerah lain termasuk pra syarat mutu yang dibutuhkan.

B.1. Mekanisme Pasar

Sejak lama sebenarnya petani di Kabupaten Wonosobo membidik luar daerah sebagai tujuan pemasarannya. Tentunya dengan banyak menghadapi persaingan harga maupun mutu. Dalam proses ini biasanya para petani bergerak dengan sendiri-sendiri dan sedikit yang berkoordinasi dengan instansi terkait. Walupun demikian ternyata arus pemasaran boleh dikatakan cukup baik walaupun hanya petani-petani yang bermodal besar saja yang bisa memanfaatkan. Petani-petani kecil biasanya menggantungkan pemasarannya kepada para pengepul atau tengkulak yang nantinya membawa hasil produk petani ini keluar daerah. Sebenarnya cara ini kurang baik karena produk petani dibeli biasanya dibawah harga pasar dengan sistem ijon (tebas). Hal ini terjadi karena pihak pengepul dan tengkulak mempunyai target untuk bisa mengirim barang ke luar daerah setiap daerah sedangkan pihak petani kecil ingin segera mendapatkan uang cash. Untuk itu sekalilagi perlu adanya pembenahan kerja sama di kalangan para petani agar produk mereka bisa dipasarkan secara berkelompok agar dapat lansung masuk ke pasar atau konsumen hingga harga jual mendekati harga pasar dengan memotong jalur distribusi.

B.2. Retail / Supermarket

Salah satu pasar yang sangat potensial adalah apabila bisa menembus Supermarket atau retail. Selain harga relatif tinggi, kontinyuitas kebutuhan produk juga lebih aman. Namun untuk menembus pasar supermarket atau retail tidak mudah. Selain mempunyai standar yang tinggi terhadap produk yang diterima juga harus mampu mencukupi pasokan produk sesuai dengan kontrak yang telah dibuat. Butuh sebuah komitmen dan keprofesionalan yang tinggi

Pembukaan pasar besar ini biasanya dengan mengirimkan delegasi terlebih dahului dengan mengadakan pertemuan dan pendekatan dengan pihak manajemen supermarket maupun usaha retail setelah penjajagan barulah memberikan sampel produk yang akan dipromosikan. Apabila pihak manajemen setuju dengan mutu dan harga maka akan ada masa percobaan dengan kontrak terbatas. Apabila dinilai kerja sama itu menguntungkan maka akan ada kontrak real .

Apabila produk yang ditawarkan ditolak oleh supermarket atau retail maka perlu ditanyakan faktor apa yang mengakibatkan produk itu ditolak. Biasanya alasan utama adalah mutu dan kurang kompetitifnya produk di pasaran. Jika mutu yang menjadi penyebab maka perlu mencari masukan tentang standar mutu dan berusaha untuk menjalin hubungan dengan manajemen agar bisa memberikan pelatihan-pelatihan standar mutu.

Keuntungan dari menembus pasar besar seperti supermarket dan retail ini adalah biasanya supermarket/retail mempunyai cabang yang tersebar di kota-kota besar. Jika mereka puas terhadap suatu produk maka akan direkomendasikan untuk dijual di cabang-cabang mereka. Suatu keuntungan pasar yang tinggi.

B.3. Pendidikan Mutu Standar Retail

Faktor yang paling sulit adalah membuka pasar, mempertahankan mutu, serta kontinyuitas pasokan. Hal penting ini harus dipelajari secara detail dengan pakar yang benar-benar menguasai bisnis retail. Mempertahankan kepercayaan pasar sangatlah sulit jika tidak diimbangi strategi yang baik. Salah satu yang perlu dipelajari adalah bagaimana produk pertanian benar-benar sehat dikonsumsi dan hygienis dalam pengepakan. Selain mempergunakan ilmu dasar pertanian, perlu juga menimba ilmu dari pihak –pihak pengawas mutu pertanian di perusahaan besar dan supermarket yang mempunyai standar yang sedemikian ketat guna nantinya ditularkan kepada para petani untuk membuka wawasan keilmuan dan meningkatkan mutu hasil produknya.

C. Expor

Pada dekade produk jamur Dieng Djaya masih berproduksi, tingkat perekonomian petani jamur maupun masyarakat sekitar relatif cukup tinggi. Suatu konsep pertanian yangbenar-benar difokuskan untuk expor dengan pernik-pernik syarat dan keilmuannya diberikan baik oleh instansi terkait maupun dari managerian perusahaan. Petani yang dididik dengan baik ternyata mampu memenuhi standar produk jamur yang baik dan juga mampu memenuhi kuota pesanan yang menjadi salah satu syarat kontinyuitas kepercayaan pasar. Oleh karena itu dibutuhkan kerja keras disemua pihak untuk dapat mendapat kepercayaan dari pihak lain untuk dapat berinvestasi di Kabupaten Wonosobo khususnya bidang pertanian.

C.1. Investor

Investor dalam hal ini adalah investor besar yang membangun jaringan produksinya di Kabupaten Wonosobo yang mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau jadi untuk pasar expor. Selain petani mendapat sasaran pasar , diharapkan masalah pengangguran bisa sedikit demi sedikit teratasi.

C.2. Membuka pasar luar negeri

Pasar luar negeri merupakan pasar potensial bagi produk pertanian. Namun tentunya tidak mudah untuk menembus pasar luar negeri, selain perbaikan mutu pertanian kita, juga harus diadakan promosi yang signifikan baik lewat loby-loby maupun promosi lewat teknologi informasi / web site. Pendekatan kepada pihak luar negeri via kedutaan juga bisa dilakukan sebatas mengenalkan produk dan kemudahan yang akan ditawarkan.

3. Permodalan

Permodalan merupakan faktor yang urgent bagi para petani . Modal dalam hal ini bukan hanya dipergunakan untuk membeli keperluan pertanian seperti bibit, pestisida, dan yang lain, namun juga dipergunakan guna keperluan pasca panen seperti distribusi pemasaran hasil panen atau pengembangan agroindustri. Masalah permodalan menjadi kendala dimana sekarang ini pengajuan kredit perbankan sudah semakin sulit dan koperasi banyak yang mati suri. Menghidupkan perbankan desa merupakan salah satu cara walaupun tidak mudah. Dalam hal ini pemerintah daerah semestinya memberikan kemudahan kepada pihak-pihak investor daerah maupun luar daerah untuk membuka usaha simpan pinjam dengan tentunya tidak meninggalkan fit and proper test. Dengan banyaknya perbankan yang muncul maka masalah permodalan sedikit banyak bisa diatasi.

Solusi lain adalah membuat program-program dana bergulir atau pinjaman lunak , seyogyanya bantuan pemerintah daerah kepada petani atau kelompok tani tidak berupa dana hibah karena peruntukannya biasanya tidak jelas. Selain itu pemerintah daerah harus sudah mulai mengarahkan agar desa mulai memberikan perhatian penggunaan dananya pada pembangunan ekonomi dengan membentuk pola Badan Usaha Milik Desa atau Koperasi.

USAHA DASAR PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN

By Bimo S

Silakan Memakai Semua Wacana di jatiningjati.blogspot.com untuk kemaslahatan umat

1. Pendidikan dan Sosialisasi

Hal yang mendasar dalam setiap pembangunan adalah pendidikan. Tanpa adanya komitmen yang kuat untuk meningkatkan sumber daya manusia sangatlah mustahil sebuah program pembangunan akan berhasil apa lagi bidang pertanian yang memerlukan strategi dan tata cara tehnis. Sebagai ilustrasi, di negara maju kesadaran terhadap pengolahan pertanian yang baik dan agar warganya tertarik mengolah lahan untuk mengurangi pengangguran dilakukan dengan system terpadu dengan memulai mengenalkan pertanian kepada anak usia dini. Hal ini dilakukan agar generasi baru ini kelak mampu mengolah lahan dengan baik tanpa harus mendapatkan treatment khusus seperti yang harus dilakukan kepada warga masyarakat yang turun temurun menggunakan system tradisional.

Khusus untuk para petani, mereka didekatkan dengan akses internet guna menambah keilmuan mereka dan sekaligus membaca perkembangan dan isu-isu di bidang pertanian dengan cepat. Pengecekan harga pasar juga sudah menggunakan teknologi informasi ini.

Dapat ditarik sebuah benang merah bahwa terdapat korelasi kuat antara peningkatan SDM Masyarakat khususnya para petani dengan peningkatan pembangunan bidang pertanian. Alangkah ironinya apabila Kabupaten Wonosobo yang mempunyai lahan dan air yang cukup melimpah ternyata terdapat banyak pengangguran dimana mereka semestinya bisa diserap di bidang pertanian.

A. Pendidikan Pertanian

Masyarakat yang berkecimpung di bidang pertanian kebanyakan mempunya basic pendidikan formal yang rendah. Kemampuan untuk tanggap terhadap hal yang baru terkendala oleh stigma turun temurun dan telah merekat rapat dikalangan masyarakat pedesaan. Cara bercocok tanam tradisional masih banyak ditemui pada era sekarang. Sebenarnya modernisasi bidang pertanian perlu, akan tetapi nilai atau cost yang harus dibayar sedemikian besar. Selain itu akan percuma jika pengolahan pertanian dengan alat-alat modern tidak didukung oleh pengetahuan petani yang meningkat dan memadai.

Pendidikan ataupun sosialisasi progran maupun cara bertani yang baik sudah sejak lama menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian namun seiring dengan jalannya waktu yang membawa dinamika sosial masyarakat yang terus berubah dan standar tingkat tata usaha pertanian yang terus meningkat, maka diperlukan kotinyuitas pembelajaran baik SDM Penyuluh Lapangan Pertanian maupun masyarakat petani sebagai target.

A.1. Penyuluhan

A.1.1. Penyuluhan Klasik ( Kedinasan )

Salah satu usaha pendidikan masyarakat petani klasik adalah dengan penyuluhan resmi. Beberapa cara dipergunakan seperti penyuluhan pada rapat-rapat resmi ( rapat desa khusus masalah pertanian, rapat desa, rapat RT, dll ) atau dengan pola jemput bola yaitu mendatangi perkumpulan kelompok-kelompok tani. Adalagi yang lebih intens mengadakan penyuluhan per individu petani. Penyuluh Lapangan Pertanian dituntun untuk inovatif dalam pendekatan dengan masyarakat. Pola penyuluhan seperti ini telah menjadi standar dalam pola penyuluhan birokrasi. Namun hal yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah adalah intensitas, kreatifitas, dan etos kerja.

A.1.2. Agen Sosialisasi

Agen sosialisasi dalam birokrasi saat ini masih diartikan secara sempit. Tugas ini biasa dibebankan kepada para penyuluh lapangan saja. Namun sebenarnya agen sosialisasi bisa siapa saja yang bisa diajak bekerja sama dalam ikut memberikan pendidikan pertanian kepada masyarakat. Agen sosialisasi selain PPL bisa saja Pegawai Kecamatan, Perangkat Desa, Ulama, Tokoh Masyarakat, LSM, bahkan bisa petani itu sendiri. Tugas dari Dinas Pertanian untuk terus berusaha mencari partner agar aura sentra pertanian tetap tinggi dengan merangkul semua pihak baik dari dalam wilayah sasaran maupun eksternal dengan behavioral approach (pendekatan perilaku / budaya masyarakat) agar jalannya pendidikan /sosialisasi bidang pertanian tidak selalu berkesan menggurui. Perubahan perilaku masyarkat saat ini cukup ekstrim dengan ditandai dengan masuknya era baru (era reformasi) dimana kepatuhan rakyat kepada pemerintah menurun dengan signifikan. PPL sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Daerah diharapkan di lapangan bisa merekrut atau merengkuh orang disekitar wilayah kerjanya dengan cara-cara atau strategi yang tepat dan halus agar bisa membantu sosialisasi program pertanian yang sudah ditetapkan.

A.2. Media Kepustakaan

Di semua negara maju, peningkatan pengetahuan petani terhadap tata cara pengolahan pertanian modern dilakukan dengan media buku tentang pertanian maupun teknologi tepat guna. Untuk saat ini bahkan petani mencari solusi maupun informasi melaluii teknologi informasi. Untuk Kabupaten Wonosobo penggunaan teknologi informasi masih dalam proses pengembangan, sedangkan perpustakaan mulai berkembang di desa-desa. Untuk tugas dari Dinas Pertanian harus rajin membuat atau mencukupi literatur-literatur baik berbentuk buku, liflet, makalah, selebaran yang berisi tentang tata cara bertani yang baik per bidang seperti bertanam padi, bertanam salak, pengelolaan irigasi, dan sebagainya , yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi wilayah di kabupaten Wonosobo. Acuan pembutan literatur selain mengacu kepada keilmuan modern juga harus melihat kondisi lapangan hingga ditemukan formula tepat agar literatur yang dibuat benar-benar bisa diterapkan secara baik di kalangan petani. Tidak sekedar asal jadi. Oleh karena itu budaya menulis di kalangan Penyuluh Lapangan Pertanian maupun staf Dinas Pertanian perlu lebih ditingkatkan guna lancarnya transfer of knowledge. Selain itu mulai dicermati dalam mengajukan anggaran agar pembiayaan literatur untuk petani ini mendapat prioritas.

A.3. Pendidikan Pertanian Sejak Dini

Kabupaten Wonosobo merupakan Kabupaten Agraris dimana sebagaian besar mata pencaharian masyarakatnya adalah bertani. Dengan demikian maka peluang angkatan kerja yang ada sangat besar kecenderungan untuk berprofesi sebagai petani. Sudah semestinya perlu adanya pendidikan sejak dini mulai dari TK hingga SMA tentang pengenalan dan pengolahan pertanian yang baik. Apabila pengenalan terhadap bidang pertanian dilakukan sejak dini diharapkan kecintaan dan juga ilmu yang diperoleh mem- braind storming anak untuk bisa tetap menempatkan bidang pertanian sebagai salah satu tujuan masa depannya atau setidaknya menumbuhkan minat untuk peduli kepada lingkungan hidup. Metode pendidikan ini dimasukkan pada mata pelajaran bermuatan lokal atau lewat ekstra kulikuler. Dinas Pertanian bisa melakukan pendekatan kepada instansi terkait atau bisa membuat program sendiri dengan bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Sebagai contoh Program ini dibagi menjadi beberapa sub level dengan contoh perincian sebagai berikut :

No.

Tingkatan Pendidikan

Kegiatan


1.



2.







3.



4.


Play Grup / Taman Kanak-Kanak



Sekolah Dasar







Sekolah Menengah Pertama



Sekolah Menengah Atas

- Pengenalan Pertanian dengan study luar di perkebunan, sawah, atau taman bunga

- Mengenalkan Anak-anak kepada beberapa jenis tanaman pertanian seperti pohon padi, jagung

- Melakukan kegiatan bercerita (story telling) tentang cerita-cerita yang berhubungan dengan pertanian atau tumbuhan

- praktek sederhana menanam di halaman sekolah atau media laboratorium praktek

- diajarkan baik ekskul atau pelajaran ketrampilan membuat hasil pertanian menjadi lebih berguna ( pembuatan keripik kentang,dll)

- Tour di beberapa sentra pertanian dan pabrik / usaha kecil pengolahan hasil pertanian

Praktek langsung dilapangan dengan sistem magang

B. Peningkatan SDM Penyuluh Lapangan Pertanian

Faktor yang tidak kalah penting adalah menyiapkan SDM Dinas Pertanian khususnya Penyuluh Lapangan Pertanian dengan memberikan banyak pelatihan dan pengaksesan informasi seluas-luasnya. Perlu ditekankan bahwa Penyuluh Lapangan Pertanian adalah ujung tombak Pemerintah Daerah dalam mendukung pembangunan di bidang pertanian. Oleh karena kebutuhan akan keilmuan di bidangnya harus menjadi salah satu prioritas. Anggaran untuk pelatihan perlu diperjuangkan dengan maksimal. Kalaupun anggaran belum ada, jajaran pimpinan Dinas Pertanian harus berusaha secara kreatif memberikan segala keperluan keilmuan kepada Penyuluh Lapangan Pertanian tanpa reserve baik dengan berusaha menyediakan akses internet ataupun mencarikan / membuat literatur-literatur yang dibutuhkan. Perlu adanya perpustakaan khusus di Dinas Pertanian untuk memenuhi kebutuhan informasi para staf dan PPL-nya.

C. Pendirian Laboratorium Pertanian / Botany Crissis Center

Pendirian sebuah laboratorium pertanian sebenarnya sudah mulai perlu dirintis karena menjemuknya masalah tehnis yang dihadapi oleh para petani kita. Laboratorium ini bisa dianggap sebagai botany crissis center dimana didalamnya terdapat kegiatan penelitian dan tempat bertanya secara tehnis detail lengkap dengan jawaban ilmiahnya. Kegiatan lain yang dilakukan adalah menemukan masalah-masalah yang timbul di suatu wilayah yang diakibatkan oleh banyak faktor dan segera mencari solusinya sehingga penanganan benar-benar sesuai dengan pokok permasalahannya. Namun kendala utama dari laboratorium ini adalah pendanaan karena dibutuhkan penyediaan alat dan operasional yang cukup tinggi.

D. Pendirian Wahana Taman Pertanian

Pendirian Wahana Taman Pertanian sebenarnya merupakan maket atau miniatur dari kondisi pertanian (picture of botany) yang dimaksudkan untuk menjadi wahana belajar dan wisata bagi masyarakat baik dari anak-anak maupun dewasa agar aura pertanian di Kabupaten Wonosobo ini semakin terasa kental. Pola education of science modern saat ini memasuki trend pembuatan taman-taman yang bisa digunakan belajar tanpa menggurui. Dalam hal ini masyarakat semakin dibawa ke aura agraris agar bisa tertarik kepada bidang pertanian yang semestinya bisa mendapatkan hasil yang besar untuk mengurangi pengangguran.

2. Tahap Awal Pembangunan Bidang Agrobisnis

Agrobisnis secara garis besar bisa dikatakan sebagai kegiatan di bidang pertanian maupun perkebunan (media tanah) dari mulai menanam, panen, sampai dengan pemasaran, dimana masing-masing kegiatan tersebut memerlukan tahapan-tahapan dan strategi yang tepat. Masalah pembngunan bidang agrobisnis sebenarnya sangat kompleks dan sangat luas cakupannya namun ada beberapa hal standar yang perlu digaris bawahi dan dimaxsimalkan untuk menjadi suatu pola pembangunan agrobisnis yang dapat dipergunakan dalam setiap kegiatan pertanian baik dari persiapan data, tehnis pertanian, maupun strategi ekonomi.

A. Realitas Data Base Pertanian

Data Base bidang pertanian semestinya menjadi perhatian utama karena setiap sentra program maupun Rencana kerja akan mengacu kepada aspek terukur yang terekam di dalam data base pertanian. Ketidak akuratan angka-angka akan berakibat fatal sehingga aspek pembangunan pertanian menjadi salah sasaran dan petani akan semakin terpinggirkan. Data base mencakup segala hal yang berhubungan dengan pertanian seperti yang telah menjadi acuan kerja Dinas Pertanian ditambah dengan data keluhan maupun kesulitan yang dihadapi petani disetiap wilayah Kabupaten Wonosobo. Dengan data-data yang tepat maka proses perencanaan dan evaluasi dapat terukur dengan matang.

Dengan data base yang tepat dan realitas dapat ditentukan sentra-sentra pertanian .Penentuan sentra pertanian menjadi cukup penting karena apabila suatu wilayah sudah menjadi sentra terhadap produk tertentu maka akan mempermudah pembinaan kedepan. Bisa lebih mudah diberikan inovasi dalam hal pengolahan dan pemasaran serta mempermudah dalam promosi.

B. Penentuan Target

Penentuan target kerja dari Dinas Pertanian harus mengacu kepada data base yang telah ada dan melihat dengan cermat persoalan-persoalan di kalangan masyarakat petani. Masukan dari para Penyuluh Lapangan Pertanian merupakan masukan yang harus diperhatikan karena merupakan manifesto kondisi riil di lapangan. Keluhan dan kesulitan yang dihadapi oleh para petani semestinya diperjuangkan oleh para PPL di wilayah tersebut dan menjadi dasar utama pembuatan target kerja. Bottom up planning harus menjadi hal yang wajib hingga program-program dan target yang dibuat tidak berkesan mubazir atau bernuansa proyek.

C. Tindak Nyata Pengamanan Sektor Pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor yang cukup rumit mencakup faktor-faktor alam, tehnis, non tehnis, dan sosial. Banyak hal yang harus menjadi perhatian agar hasil pertanian bisa terus terjaga dan meningkat. Dinas Pertanian harus terus memantau sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya terhadap faktor tehnis seperti kesediaan pupuk, pestisida, obat-obat pertanian, pendampingan, penyuluhan dan lain sebagainya dengan profesional dan maximal.

Selain itu tugas pendampingan bagi petani semestinya dilakukan dengan serius sehingga langkah-langkah pengelolaan pertanian yang benar akan terus dapat dipantau dan dijaga sedemikian rupa sehingga bisa mencapai target yang diharapkan.

D. Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu faktor penting yang merupakan kendala dalam pembangunan bidang pertanian di Kabupaten Wonosobo. Dalam beberapa waktu terakhir nilai jual beberapa produk pertanian sebagai contoh tembakau, kentang , dan cabai mengalami penurunan dan fluktuasi harga yang tidak stabil. Selain itu produk juga banyak tertolak dibeberapa pasar sasaran diakibatkan penanganan pasca panen yang tidak profesional, tidak lulus uji standar pestisida, dan lain sebagainya. Dinas Pertanian dalam hal ini harus mempunyai tim khusus yang menangani masalah pasar dengan mengadakan survei dan loby kepada pihak-pihak buyer untuk meyakinkan pasar terhadap keunggulan kualitas produk pertanian Kabupaten Wonosobo tentunya dengan berkoordinasi dengan PPL untuk segera memperbaiki kwalitas produk pertanian petani.

Tim yang dibentuk ini merupakan tim intern Dinas Pertanian yang nantinya bisa berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait dalam usaha membuka pasar. Kemampuan tim yang dibentuk tentunya harus benar-benar profesional hingga tim yang dibentuk tidak sekedar formalitas